Monthly Archives: March 2009

Tidak cukup dengan infaq seribuku setiap hari untuk mengapus dosa-dosaku yang banyak.

Tidak cukup rawatibku setiap waktu untuk menutupi betapa melimpah salahku.

Tidak akan cukup 1 juz tilawah untuk menggugurkan dosa-dosa itu karena saking meruah.

Tidak cukup shalat dluhaku untuk merontokkan ‘gunung penghinaan diri’ yang akan mencampakkanku dalam jahannam.

Tidak, sekali-kali aku tidak merasa qiyamul lailku akan cukup untuk menghapusnya, membuangnya, memberangus semua salah sehingga ancaman hukuman tidak membuatku resah. Read More »

“Ibu Olga, Bu Sari lagi kemana ya?”, spontan perempuan itu menjawab, “Ke Bandung, bu.” ….

Aku masih ingat, mama saat itu menceritakannya, 19 Juni 2004, di kantor Balai Besar Riset Perikanan Pantai Gondol-BALI, di saat sangat berat untuk memutuskan aku pergi ke Bandung atau ke Bogor.

Tidak pernah tahu, mendapatkan dua kesempatan PMDK di dua kampus, STT Telkom (sekarang IT Telkom) Bandung dan Institut Pertanian Bogor adalah suatu keberuntungan besar atau tidak, karena -hampir sebulan- untuk memutuskan kampus mana yang harus aku ambil sungguh sulit.

Aku ingat -bahkan sangat ingat- tanggal keramat itu, 21 Juni 2004 adalah waktu pendaftaran ulang untuk dua kampus itu. SAMA WAKTU. Karenanya sangat sulit untuk memutuskan kota mana yang harus dituju. IPB pilihanku, tidak muluk-muluk berpikir masuk STT Telkom sebagai seorang anak PNS. Tapi papa tidak mau anaknya jadi seorang pegawai negeri juga. Mama hanya bilang, “Shalat istikharah untuk tahu jawabannya.” Read More »

Aku cuma berusaha untuk membantu saudariku, yang menuliskan kisah -yang wallahu ‘alam, aku tidak bisa komentar apa pun- atas apa yang beliau alami. Menuliskan sedikit, beliau ingin pandanganmu (semua orang yang membaca) mengenai kisahnya. Aku tidak mampu menanggapi apa pun saat mengetahuinya pertama kali.

Ya Allah.. hari ini Engkau benar-benar menunjukkan kekuasaanmu. Hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana caranya menghormati ayah.

Sebagai perkenalan, aku ini adalah anak bungsu dari istri pertama ayahku. Saat aku berumur 2 tahun ayah saya menikah lagi secara diam-diam dengan istri keduanya. Istri kedua ayahku itu sebelumnya janda beranak tiga. Dari pernikahannya dengan ayahku diperoleh empat orang anak yang kemudian kusebut adikku. Walaupun diam-diam -tetap saja- yang namanya bangkai pasti akan tercium juga baunya. Selama lima tahun ayahku membohongi ibuku dan anak-anaknya. Dan akhirnya ibuku pun mengetahui peristiwa menyedihkan tersebut. Read More »