Daerah Condet Jakarta Timur, 17 April 2009, jam 10 pagi kurang. Terik di tengah tangisan…,
Tali ikatan kepala dibuka… Wajah putih pucat itu menyentuh tanah….
Tidak pernah tahu, apakah makin tua maka kita akan makin banyak melihat kematian, makin bertambah umur maka kita akan makin sering melihat satu persatu orang-orang yang kita kenal meningggalkan kita? Aku tidak pernah tahu. Namun mulai dari bulan Syawal tahun kemarin (1430 H. red) sampai sekarang; mulai dari praktikan, senior, dosen, orang tua teman, hingga teman satu kelas. Tapi hari ini benar-benar punya kesan lain. Sangat berbeda.
Nopy Wulandari, teman sekelas yang murah senyum, sangat lembut, dan setiap bertemu walau dari semester 3 pindah jurusan ke Teknik Industri, tetap saja menyapa jika bertemu. Begitu mengejutkan, pesan itu muncul tiba-tiba dari layar ebuddy. Tidak percaya, bertanya berkali-kali atas kebenaran beritanya. Untungnya, saat terbangun adzan subuh melihat pesan di hape bahwa anak-anak kelas mau melayat ke sana. Maha Besar Engkau Ya Allah, perjalanan yang penuh hikmah.
Sempat menyolati beliau, mengantar, dan melihat prosesi pemakaman beliau. Sungguh tidak dapat dipercaya, sampai saat tali ikatan kafan bagian kepala itu dibuka. Aku bisa melihatnya, meyakinkan diri itu adalah Nopy. Wajah itu putih, begitu pucat. Read More »