Aku menemukannya di bawah kaki pelangi. Bukan sesuatu, namun sebuah sosok. Tertidur pulas, berpendar indah di mata, silau namun menyejukkan, dengan hela nafas yang besenandung. Tapi aku tak bisa melihatnya, tidak bisa memandang wajahnya. Sosok itu cantik. Cantik yang tak terjamah, indah yang tak tergambar, sosok elok bagaikan mutiara.
Aku menemukannya di bawah kaki pelangi. Tanganku -naluriah- menjulur, menggapainya, ingin meraih. Seketika sosok itu berpendar hebat, sakit menyilaukan. Seakan menjerit, membuat tameng cahaya, menusuk bukan pada mataku tapi menghujam tepat di jiwa. Aku mundur. Jengah dengan perasaan campur aduk. Aku tidak boleh menyentuhnya!
Atau aku belum boleh menyentuhnya? Read the rest of this entry »