Aku menemukannya di bawah kaki pelangi. Bukan sesuatu, namun sebuah sosok. Tertidur pulas, berpendar indah di mata, silau namun menyejukkan, dengan hela nafas yang besenandung. Tapi aku tak bisa melihatnya, tidak bisa memandang wajahnya. Sosok itu cantik. Cantik yang tak terjamah, indah yang tak tergambar, sosok elok bagaikan mutiara.
Aku menemukannya di bawah kaki pelangi. Tanganku -naluriah- menjulur, menggapainya, ingin meraih. Seketika sosok itu berpendar hebat, sakit menyilaukan. Seakan menjerit, membuat tameng cahaya, menusuk bukan pada mataku tapi menghujam tepat di jiwa. Aku mundur. Jengah dengan perasaan campur aduk. Aku tidak boleh menyentuhnya!
Atau aku belum boleh menyentuhnya?
Aku menemukanmu di bawah kaki pelangi. Wanita bermandi warna-warni. Indah namun belum boleh ku sentuh. Cantik tapi tak boleh ku pandang lekat-lekat. Hatiku berkata -walau tak kenal, walau tak tahu, walau belum pernah bertemu- bahwa dia adalah pembawa kunci syurgaku. Jiwaku bersenandung -walau tak sadar, walau tak berharap, walau merasa tak pantas- bahwa dialah sang bidadari.
Tulang-tulang igaku bernyanyi, bahagia menemukan apa yang selama ini mereka cari. Sendi-sendi rusukku bergetar seakan telah bertemu dengan sang penawar hambar….
Aku menemukanmu di bawah kaki pelangi…
NB: Tulisan ini pengantar tulisan selanjutnya “The Best Wedding Planner II- Ta’aruf”
harry
February 17, 2010 at 2:07 pm
alhamdulillah,,,akhirnya,,,,,