Berdoa Dengan Hadis yang Tidak Shahih

Sempat shock saat dibilang bahwa doa berbuka puasa yang sering kita pakai; “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu”, itu adalah doa dari hadis yang lemah. Dalam hati, Wadaw! Jadi selama ini salah? Langsung searching di internet dan -alhamdulillah- mendapatkan beberapa pencerahan. Tidak hanya dari satu artikel, tapi dari berbagai artikel dari beberapa ulama dengan firkoh (dasar pemikiran) yang berbeda.

Seperti biasa, tulisan ini hanya sebuah rangkuman.

Berhubung sebentar lagi memasuki bulan Ramadlan, maka sepertinya baik jika mengkaji doa berbuka puasa yang sangat sering kita dengar di televisi dan diajarkan kepada kita di TPA saat kanak-kanak dulu. Doanya, yaitu sebagai berikut;

Dari Mu’adz bin Zahrah berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka mengucapkan: (Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu) [HR. Ibnu Sunni dalam kitabnya “Amalul Yaumi wal Lailah” dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu no:481, dan Abu Dawud no: 2358]

Paragraf ini bisa diskip, langsung ke paragraf selanjutnya saja jika pembaca sudah mengerti tentang penentuan kedudukan sebuah hadis (shahih, hasan, dhaif, dan maudlu). Tapi yang dibahas sekarang tentang kenapa sebuah hadis dikatakan lemah atau dhaif. Hadits dha’if itu masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha`f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-`adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaqnya yang kurang etis di tengah masyarakatnya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan upaya memalsukan atau mengarang hadits.

Nah, hadist di atas dianggap hadis mursal. Aih, apalagi hadis mursal ini? Hadits mursal adalah segala hadits yang bersambung sanadnya kepada tabi’in dan tidak menyebutkan nama sahabat Rasul saw. yang meriwayatkan hadits langsung menyebut nama nabi Muhammad saw.. Dan Mu’adz bin Zahrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat. Dan dari Mu’adz bin Zahrah ini tidak diketahui siapa sahabat yang meriwayatkan hadis nabiyullah saw. ini sebelumnya. Sehingga kesimpulannya hadis ini adalah dhaif.

Lah, lalu kalau dhaif kita pakai doa apa saat berbuka?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” [HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Lalu bagaimana hukumnya berdoa dengan hadits yang tidak shahih?

“Meski kita bisa menerima bahwa secara jalur sanad bahwa lafadz hadits doa ini lemah, namun yang jadi pertanyaan adalah: Apakah tiap berdoa diharuskan hanya dengan menggunakan lafaz dari nash quran dan hadits saja?

Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan.

Sebagian mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa dengan lafadz dari riwayat yang kurang dari shahih.

Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Apalagi ada zhan bahwa lafadz itu diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Namun memang demikian adanya, di mana saja kapan saja, para ulama sangat mungkin terjebak dengan perbedaan sudut pandang.” -Ahmad Sarwat Lc.-

Semoga bermanfaat.

Oiya, satu lagi yang penting diketahui: Secara dhahirnya hadits ini dibaca saat sudah mulai berbuka puasa bukan sebelumnya.

Jika ada yang lebih baik derajatnya maka hal itu yang lebih utama diamalkan :) Selamat beramal. Syariat itu mudah, namun tidak untuk dimudah-mudahkan…

Wallahu a’lam bisshawaab.

Sumber:

  1. http://sulthon-smiller.blogspot.com/2010/03/kehujjahan-hadits-mursal.html
  2. http://muslim.or.id/ramadhan/dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html
  3. http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3119-kritik-doa-buka-puasa-allahumma-laka-shumtu-.html
  4. http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/13736
  5. http://www.voa-islam.com/islamia/doa/2010/08/12/9109/doa-berbuka-puasa-yang-shahih/
  6. http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/05/hadis-shahih-hasan-dan-dhaif-dan-maudhu.html
  7. http://zunlynadia.wordpress.com/2010/12/28/pembagian-hadits/
About these ads

3 thoughts on “Berdoa Dengan Hadis yang Tidak Shahih

  1. wong Papua says:

    hummmm……. ribet kalu ngobrolin gini… sholat aja masih males !!!!

    • abdullah says:

      Hahahaha… Iya mas, yg penting shalat 5 waktunya harus rajin dulu :))

      Ini kan sebagai tambahan. Klo bisa nambah, kan lebih baik.

  2. dalam berdoa diperbolehkan dg konteks apa saja yg ptg qt pahami artinya,,walapun dg bhs qt sendiri(kl tdk hafal lafadz arabnya),,intinya pahami setiap doa yg qt ucapkan,,^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,784 other followers

%d bloggers like this: