Hari ini, Laboratorium Teknik Digital. Langit juga belum terang, bada subuh yang sangat tenang.

Pukulan itu luput…, namun telak mengenaiku. Di hati tepatnya!

Aku pernah bertanya, apakah memutuskan tali silaturahim bisa menjadi solusi atau tidak, dan akhirnya aku tahu jawabannya sekarang. TIDAK, jelas sudah ini adalah jawabannya. Tidak bicara, tidak bertegur sapa, tidak menghiraukan satu sama lain, semua hal ini sama sekali bukan solusi untuk masalah apapun. SAMA SEKALI TIDAK! Dan jawabanku akhirnya didukung oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimallah dan ceritanya hari ini. Luar biasa!

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimallah menjelaskan penggalan-penggalan ayat di bawah ini dengan sangat indah: Read More »

Daerah Condet Jakarta Timur, 17 April 2009, jam 10 pagi kurang. Terik di tengah tangisan…,

Tali ikatan kepala dibuka… Wajah putih pucat itu menyentuh tanah….

Tidak pernah tahu, apakah makin tua maka kita akan makin banyak melihat kematian, makin bertambah umur maka kita akan makin sering melihat satu persatu orang-orang yang kita kenal meningggalkan kita? Aku tidak pernah tahu. Namun mulai dari bulan Syawal tahun kemarin (1430 H. red) sampai sekarang; mulai dari praktikan, senior, dosen, orang tua teman, hingga teman satu kelas. Tapi hari ini benar-benar punya kesan lain. Sangat berbeda.

Nopy Wulandari, teman sekelas yang murah senyum, sangat lembut, dan setiap bertemu walau dari semester 3 pindah jurusan ke Teknik Industri, tetap saja menyapa jika bertemu. Begitu mengejutkan, pesan itu muncul tiba-tiba dari layar ebuddy. Tidak percaya, bertanya berkali-kali atas kebenaran beritanya. Untungnya, saat terbangun adzan subuh melihat pesan di hape bahwa anak-anak kelas mau melayat ke sana. Maha Besar Engkau Ya Allah, perjalanan yang penuh hikmah.

Sempat menyolati beliau, mengantar, dan melihat prosesi pemakaman beliau. Sungguh tidak dapat dipercaya, sampai saat  tali ikatan kafan bagian kepala itu dibuka. Aku bisa melihatnya, meyakinkan diri itu adalah Nopy. Wajah itu putih, begitu pucat. Read More »

Terinspirasi dari lagu Cokelat untuk Indonesia, “5 Menit Untuk 5 Tahun”.

Mana pernah terpikir bahwa PEMILU bisa jadi titik tolak untuk menentukan segalanya. Menentukan nasib rakyat banyak, menentukan kesejahteraan Indonesia mau dibawa kemana, menetukan keadilan yang akan kita -rakyat Indonesia- dapatkan untuk setiap kewajiban yang telah kita lakukan (ya bayar pajak, ya mentaati peraturan lalu lintas, ya banyak deh…). Menetukan siapa pemimpin yang akan mewakili kita di dewan sana. PEMILU adalah penentuan dimana kita akan memilih setan atau manusia yang akan duduk menjadi pemimpin kita.

Ga mau bayangin deh kalau yang akan duduk di gedung dewan itu adalah mbak kunti, mas genderuwo, om pocong, tante suster ngesot, tuyul, dan berbagai jenis setan yang kerjaannya cuma tidur doang kalau lagi rapat, meleknya cuma malam-malam. Ga kuat buka mata kalau udah siang. Cape deh! Read More »

Ini bukan dakwah, jika apa yang kita sebut kerja dakwah membuat kita lupa tilawah satu juz per hari, beralasan terlalu letih dengan semua aktivitas. Sedang kau tahu kekuatanmu bergerak berasal dari tilawahmu.

Ini bukan dakwah, jika apa yang kita selalu teriakkan -dengan lantang itu- membuat kita selalu terburu-buru lakukan shalat rawatib, bahkan tidak mengerjakannya dengan alasan rawatib hanya sebuah amalan sunnah. Padahal shalat rawatib bisa menutupi banyak ketidakkhusyukan, “diskusi-diskusi” di kepalamu pada saat melakukan  shalat-shalat fardlumu. Menyempurnakannya. Kau tahu tapi kau remehkannya. Read More »

Andai aku punya mesin waktu maka aku akan kembali ke bulan Desember 2007. Aku akan mencegah si bodoh itu untuk melakukan kesalahan awal yang berakibat sampai sekarang.

Andai aku punya mesin waktu maka aku akan kembali ke semester 7 untuk meminta si over sibuk itu untuk lebih serius belajar SKSO. Agar semua berjalan lancar, lulus dan wisuda dalam waktu 4 tahun.

Andai aku punya mesin waktu maka aku akan kembali ke kelas 2 SMA, masa-masa aku memulai kejahiliahan. Mencegah si jahil ini untuk merasakan nikmat semu maksiat, dan kesenangan sementara suatu kesalahan.

Andai aku miliki mesin waktu maka aku akan kembali ke masa yang aku rasa paling menentukan hidupku sampai sekarang, yaitu; Read More »

Tidak cukup dengan infaq seribuku setiap hari untuk mengapus dosa-dosaku yang banyak.

Tidak cukup rawatibku setiap waktu untuk menutupi betapa melimpah salahku.

Tidak akan cukup 1 juz tilawah untuk menggugurkan dosa-dosa itu karena saking meruah.

Tidak cukup shalat dluhaku untuk merontokkan ‘gunung penghinaan diri’ yang akan mencampakkanku dalam jahannam.

Tidak, sekali-kali aku tidak merasa qiyamul lailku akan cukup untuk menghapusnya, membuangnya, memberangus semua salah sehingga ancaman hukuman tidak membuatku resah. Read More »

“Ibu Olga, Bu Sari lagi kemana ya?”, spontan perempuan itu menjawab, “Ke Bandung, bu.” ….

Aku masih ingat, mama saat itu menceritakannya, 19 Juni 2004, di kantor Balai Besar Riset Perikanan Pantai Gondol-BALI, di saat sangat berat untuk memutuskan aku pergi ke Bandung atau ke Bogor.

Tidak pernah tahu, mendapatkan dua kesempatan PMDK di dua kampus, STT Telkom (sekarang IT Telkom) Bandung dan Institut Pertanian Bogor adalah suatu keberuntungan besar atau tidak, karena -hampir sebulan- untuk memutuskan kampus mana yang harus aku ambil sungguh sulit.

Aku ingat -bahkan sangat ingat- tanggal keramat itu, 21 Juni 2004 adalah waktu pendaftaran ulang untuk dua kampus itu. SAMA WAKTU. Karenanya sangat sulit untuk memutuskan kota mana yang harus dituju. IPB pilihanku, tidak muluk-muluk berpikir masuk STT Telkom sebagai seorang anak PNS. Tapi papa tidak mau anaknya jadi seorang pegawai negeri juga. Mama hanya bilang, “Shalat istikharah untuk tahu jawabannya.” Read More »

Aku cuma berusaha untuk membantu saudariku, yang menuliskan kisah -yang wallahu ‘alam, aku tidak bisa komentar apa pun- atas apa yang beliau alami. Menuliskan sedikit, beliau ingin pandanganmu (semua orang yang membaca) mengenai kisahnya. Aku tidak mampu menanggapi apa pun saat mengetahuinya pertama kali.

Ya Allah.. hari ini Engkau benar-benar menunjukkan kekuasaanmu. Hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana caranya menghormati ayah.

Sebagai perkenalan, aku ini adalah anak bungsu dari istri pertama ayahku. Saat aku berumur 2 tahun ayah saya menikah lagi secara diam-diam dengan istri keduanya. Istri kedua ayahku itu sebelumnya janda beranak tiga. Dari pernikahannya dengan ayahku diperoleh empat orang anak yang kemudian kusebut adikku. Walaupun diam-diam -tetap saja- yang namanya bangkai pasti akan tercium juga baunya. Selama lima tahun ayahku membohongi ibuku dan anak-anaknya. Dan akhirnya ibuku pun mengetahui peristiwa menyedihkan tersebut. Read More »

Sesaat setelah daftar sidang, aku ingat saat itu hari Jumat, 13 Pebruari 2009.

Seperti biasa, untuk urusan kuliah dan ngeluh mengeluh, aku datang ke Bu Nasi Uduk di depan MSU. Udah kaya ibu sendiri. Cerita banyak deh disitu, kasih tahu kapan sidang dan lain-lain. “Ibu tahu ga, apa yang bikin laki-laki nervous banget, deg-degan, gugup minta ampun? Hehehehe….” Aku bicara sambil nyengar-nyengir.

“Emang apa?” Ibu Uduk tanya. “Kata orang sih Bu, ada 2 waktu yang bikin laki-laki deg-degan. Yang pertama waktu mau sidang TA, dan yang kedua pas mau ijab qabul. Hahahaha….” Si Ibu Uduk ikut-ikut ketawa deh.

“Ah, kalo gitu mah berarti perempuan lebih banyak dong waktu yang kaya gitu.” Dalam hati, apa aja ya…? Ternyata jawabannya sederhana tapi memang jawaban tepat. Pantas kenapa Allah sangat memuliakan wanita. Apa coba yang dijawab oleh Ibu Uduk, Read More »

Lindungi aku dari putus asa….

Suatu hari, di suatu tempat,

Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan – mengintipnya – sedang meratap, menangis sendirian, memukul-mukul lantai di depannya, terisak keras, lalu berteriak, “Engkau curang, ya Rabb!!! Tidak adil!” Dan tangisnya makin pecah, sesenggukan. Menengadah dan bicara putus-putus. Seakan di depannya ada sesorang. Dia protes. Tangan mengepal memukul-mukul lantai di depannya dan menunduk sangat dalam, butir-butir kecil itu sangat terlihat – dalam jarak pandangku – menetes tidak berhenti. Read More »