Kemiskinan di Sekitarku

22 Maret 2008, 09.41, Ruang Utama GSG, di Talk Show Photo Engine HIMATEL “Kemiskinan di Bawah Kemajuan Kampus Teknologi”

Sumpah miris banget. Seorang bapak yang hidupnya – aku yakin banget – sudah lebih dari setengah abad lamanya sekarang duduk di depan kami. Menggunakan baju koko warna krem sederhana, rambutnya sudah abu-abu dominan putih, dan kerutan wajahnya sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Pak Ayat adalah seorang tua yang sederhana.

Anaknya ada tiga, “Anak saya ada tiga, yang paling tua kelas 3 SMP, yang kedua, kelas 1 SMP dan yang paling kecil kelas 5 SD.” Beliau menceritakan bahwa semua anaknya punya semangat untuk tetap sekolah, terlebih lagi si sulung yang sebentar lagi lulus dari SMP. Terkadang beliau mendengar rintihan anaknya yang paling tua itu bahwa dia ingin tetap terus melanjutkan ke SMA. Pak Ayat tidak tahu harus melakukan apa-apa. Mungkin beliau sudah bisa lega dengan anaknya yang pertama ada yang mau bantu dengan memberikan Rp 30 000,- tiap bulannya. Tapi untuk yang paling besar? Dia tak tahu harus bagaimana. Ya Allah, ekspresinya amat senang saat menceritakan Rp 30 000,- itu di depan kami yang menonton. Hanya tiga puluh ribu rupiah dan itu sepertinya sangat istimewa dan sangat membantunya. Sedang kita? Terkadang tiga puluh ribu habis dalam 3 hari. Ternyata kita hidup mewah di tengah penderitaan masyarakat sekitar yang tidak mampu.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (At Takatsur: 1-8)

Pak Ayat dengan tegasnya berkata bahwa beliau tidak akan mau untuk mengemis. “Saya Cuma ingin dibantu modal, saya masih kuat berusaha. Tapi saya tidak punya….” Beliau adalah orang dengan cara pikir yang sederhana. Pak Ayat berusaha membatasi mimpinya. Beliau tidak mau muluk-muluk bermimpi besar, dengan polosnya beliau menjawab pertanyaan Uyo tentang mimpi pak Ayat terhadap anak-anaknya kelak besar nanti, “Mimpi saya, saya cuma ingin masukin anak saya ke SMA.” Moderator saat itu berusaha menjelaskan apa yang Uyo maksud, tapi pak Ayat hanya mengatakan, “Saya mengukur diri… “ Sungguh saat itu aku merasa bahwa sepertinya peluang sukses itu tidak ada di dalam kamus mereka yang makan dua kali sehari saja sulit. Peluang untuk menjadi orang besar itu tidak ada dalam kotak mimpi mereka. Dan aku merasa, mereka tidak punya cita-cita – bisa hidup saja sudah syukur, mereka tidak berani bercita-cita. Sungguh sedih. Apalagi saat melihat ekspresi wajah beliau langsung. Beliau hanya orang tua yang ingin anak-anaknya senang.

Dalam kitab Adz-dzull wa al-Inkisar li al-Aziz al-Jabbar al-Khusyu fi al-Shalah karya Ibn Rajab al-Hambali, Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Abu Sa’idah al-Khudri r.a., bahwa Nabi saw., pernah mengucapkan doa, “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama orang-orang miskin.”

Nabi saw., sangat memerhatikan dan menyayangi orang miskin. Hal ini tercermin dari doa yang disampaikannya bahwa beliau ingin hidup dan mati dalam keadaan miskin, perhatikanlah orang miskin karena doa orang miskin dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan dalam Alquran surat al-Ma’un ayat 1 dan 2 dijelaskan,

“Tahukah kamu siapa orang yang mendustakan agama? Orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin”.

Dan kemiskinan mendekati kekafiran. Aku pun tak heran jika para misionaris yang doyan mengkristenissasi selalu saja berhasil mengkristenkan banyak orang dengan cara jitu, yaitu UANG. Mereka menyerang masyarakat yang terbelakang, masyarakat yang berpikir bahwa, “Yang penting gua masih bisa hidup. Ga peduli, dengan agama, yang penting perut kenyang, yang penting keluarga gua aman.”. Lalu kemana kita yang mengaku saudara seiman?

Dedi Ramdani, yang mewakili ormas, KAMMI, pun menceritakan bagaimana kemiskinan dapat membuat anak kecil dengan mudahnya bunuh diri. Haryanto, siswa kelas 6 SD di Garut dengan mudahnya melakukan gantung diri hnaya gara-gara tidak bisa membayar uang ekskul sebesar dua ribu lima ratus rupiah. Hanya dua ribu lima ratus, karena malu diolok-olok oleh teman-temannya. Sungguh ini terjadi di depan mata kita, tapi kita tidak mampu berbuat apapun.

Tidak mampu? Kita sangat mampu. Tapi kapan kita mau bergerak untuk tunjukkan diri kita mampu berbuat sesuatu….

Aku dapat makan dengan kenyang, sementara ada saudaraku yang kelaparan,

Aku dapat tidur dengan tenang, sementara ada saudaraku yang kedinginan,

Aku dapat sekolah dengan semua kelengkapan, sementara ada saudaraku yang mengangis tak mampu meneruskan pelajaran,

Teganya diriku….

One thought on “Kemiskinan di Sekitarku

  1. Me says:

    iya….
    kita harus liat sekeliling kita….
    dan kita juga harus mensyukuri apa yang kita punya sekarang ini….

    jangan berlebi-lebihan untuk hal yang tidak berguna….
    lihatlah sodara-sodaramu yang lain…

    ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: