Ummiy…, I Love You So….

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw. dan bertanya : “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya?” Baginda menjawab : “Ibumu”. Dan dia bertanya lagi : “Kemudian siapa?”. Baginda menjawab lagi : “Ibumu” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa” Baginda menjawab lagi : “Ibumu”. Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa ? “. dan barulah Rasulullah saw. menjawab: “Bapakmu” [ Sahih al Bukhari hadis no 5971 ]

Jadi teringat…,

Waktu itu: 22 Maret 2008, 23.55 WMSU, Masjid Syamsul ‘Ulum, Malam yang menegangkan tapi alhamdulillah berakhir indah

Jika saja aku bisa gambarkan suara bayi itu. Jika saja aku bisa menggambarkan betapa cantik suara itu kepada kalian semua. Saat itu dengan jelasnya suara bayi yang belum ada lima menit merasakan sentuhan dunia menangis di depan handphone mama. Cantik sekali. Sangat cantik. Sungguh lega mendengar suaranya, suaranya setelah 5 jam berada dalam tubuh ibunya. 5 jam yang sangat menegangkan, 5 jam yang sangat amat sakit, aku pun tak mampu membayangkannya. Aku tak tahu reaksiku seperti apa jika aku melihat langsung prosesi melahirkan itu. Tapi tergambar jelas dari suara mama dan tangis suaminya saat meneleponku, seperti apa sakitnya melahirkan. Prosesi yang mempertaruhkan jiwa dan raga, hidup atau mati

Aku masih ingat. Saat itu jam 19 lewat, setelah shalat isya, setelah makan malam di Buah Batu, mama tiba-tiba saja menelepon, (kurang lebih seperti ini bicaranya)

A, doain teh ya. Sekarang udah mulai sakit,” suara beliau bergetar, sangat terasa. “Anaknya ga mau keluar-keluar, ga ada kontraksi sedikit pun. Jadinya dirangsang kaya mama ngelahirin Ai dulu.” Mama saat itu bercerita bahwa saat itu beliau menelepon di ruang bersalin. Suaranya naik turun. Aku pun sempat mendengar jeritan kakakku saat itu. Lemas langsung badanku. Aku hanya bilang iya, iya, iya dan berusaha menenangkan mama walau bohong jika aku bilang saat itu aku tenang. Perasaan sedikit takut pun timbul, takut dengan apa pun yang mungkin terjadi. Cepat-cepat kuhapus semua pikiran buruk. Segera setelah putus hubungan telepon, semua doa yang bisa ku panjatkan ku ucapkan dengan penuh kepasrahan. Berikan yang terbaik, ya Allah….

Malam itu berjalan menyenangkan. Saat itu memang aku sedang refreshing bareng teman-teman dan baru pulang jam setengah sebelas malam. Aku pun sempat tidak memikirkan bagaimana keadaan teteh. Tapi aku pasti sudah dihubungi jika anaknya sudah lahir.

Jam 23 lewat sedikit, tiba-tiba suami teteh menelepon. Ya Allah, dia menangis. Rasanya ada batu besar dalam perutku. Aku merosot duduk, berusaha menenangkan suara agar bisa menghiburnya. A Andy menangis,

“Aa, doain teteh ya. Anaknya belum keluar-keluar.” Dia sesenggukan, aku hanya bisa bilang iya. “Doain biar mudah keluarnya. Teteh masih kesakitan sampai sekarang.” Kata ‘kesakitan’ yang benar-benar menyakitkan. Aku langsung menerawang flashback. Tadi mama menelepon jam 7, sampai sekarang masih belum keluar. Berarti sudah 4 jam kesakitan. Apa tidak lemas?

Hubungan telepon segera putus, dan segera pula aku ambil wudlu, shalat 2 rakaat, berdoa dan tilawah semampuku. Pikiran-pikiran buruk muncul tiba-tiba. Ah…, semua kupasrahkan kepadaMU ya Rabb. Sungguh saat itu aku merasakan ketakutan kehilangan orang yang dicintai. Tapi memang inilah cara Allah mengingatkanku saat itu, aku hanya seorang manusia yang sangat amat lemah,

“… dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisaa’: 28)

Dan akhirnya, aku masih ingat, jam 23.55 jam Masjid Syamsul ‘Ulum, mama telepon lagi dan mengatakan kaliamt yang begitu melegakan,

“A, anaknya udah lahir.” Subhanallah! Saat itu sangat senang membuncah-buncah, “Anaknya perempuan.” YA ALLAH, cantiknya! Saat itu bayi kecil yang aku belum tahu namanya itu menangis di depan handphone mama. Ya Allah, cantik benar suara itu. Dalam hatiku, kamu yang buat teteh kesakitan 5 jam, kamu harus jadi anak yang berbakti.

Ternyata pernyataan hati yang berbalik arah. Setelah puas mendengar suaranya dan memanjatkan doa yang hanya didengar oleh Allah dan bayi itu, aku yang duduk termenung. Aku duduk berpikir, betapa aku harus berbakti kepada orang tua, betapa aku harus sangat berbakti kepada ibu yang mempertaruhkan nyawanya untuk bayi yang belum tentu memberikan keuntungan apa-apa padanya. Yang belum tentu berbakti kepadanya, yang selalu buat dirinya susah, yang membuatnya lelah setiap pulang kerja, yang membuatnya pusing saat kita sakit, yang hanya bisa membuatnya menangis….

Nama bayi cantik itu adalah Keisha Anindya Putri Tjahyadi. Bayi mungil yang membuatku sadar betapa aku harus berbakti kepada orang tuaku…. Lebih dan lebih berbakti.

Ya Allah, jadikan Keisha anak yang berbakti kepada orang tua, kemudahan untuk menerima ilmu, menjadi mujahidahmu, menjadi seorang yang akan membawa orang-orang di sekitarnya untuk masuk ke dalam jannahMU, dan menjadi bidadari syurga suatu hari nanti.

AMIN….

2 thoughts on “Ummiy…, I Love You So….

  1. cypher_q says:

    Subhanallah..

    memang berat banget pengorbanan ibu saat melahirkan kita mempertaruhkan hidup dan matinya.

    Jadi inget ibu.. lagi sendirian, smoga diberi kesabaran & ketabahan

  2. Tumi_7 says:

    ibu……
    pengorbanannya gak akan pernah ada yang menandingi…..

    ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: