Rindu Komitmen Dakwahku Saat Itu…

From: Deni Akbar

26/06/2008

09:37

Tausiyyah SKI: Jika dakwah itu berat,maka jgn pernah minta utk diringankan bebannya.Melainkan,mintalah punggung yg kuat agr dpt memikulnya.

Ketua SKI

Jarkomkan

Tanpa mengurangi satu kata atau bentuk penulisannya, inilah sms saudaraku Deni Akbar yang membuatku bisa mengingat semua hal yang tiba-tiba saja terbesit dalam kepalaku.

Aku masih ingat, tanggal 12 Juni 2008 jam 20. lewat-lewat dikit, saat aku berada di ruang C201, tiba-tiba saja suara pintu terbuka diikuti suaranya terdengar memanggilku. Sangat tak asing, tapi bertanya-tanya kenapa tiba-tiba dia kesini. Padahal sebelumnya tidak ada 15 menit sebelum aku sampai di ruangan ini, aku melihatnya naik motor entah pergi kemana.

Aku lumayan kaget saat memandang wajahnya, berkeringat, terengah-engah dengan ekspresi sangat sedih, sangat terpukul, dia menangis. “Kak…” Ekspresinya memintaku untuk keluar. Ia ingin bicara berdua. Aku hanya bertanya kenapa, lalu merangkulnya menuntunnya ke luar dan duduk. Ceritanya membuatku sangat kagum, aku tidak sedih, aku malah sangat gembira mendengarnya. Satu kalimat awal yang membuatku terperanjat saat itu,

“Aku diusir kak…,” dia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Menahan isakan sedihnya. Aku hanya bisa diam menunggunya melanjutkan kisahnya, mengelus punggungnya berharap itu bisa membuatnya lebih tenang. “Aku diusir oleh teman yang udah akrab banget dari pertama kali masuk ke stt kak. Dia bilang, ‘Ngapain lagi kamu kesini?!’ Disana banyak orang tapi ga ada yang belain saya.” Lalu dia tenggelam lagi dalam tangisnya. Aku pun langsung tanggap apa yang sedang terjadi.

Aku ingat, kemarin dia bercerita bahwa dia menolak membonceng perempuan. Saat itu, setelah belajar bersama dengan teman-teman yang bisa dibilang sudah kaya satu genk, ada satu orang perempuan yang mau pulang dan kebetulan satu arah dengan adikku itu. Dengan alasan kalau dia belum mau pulang saat itu, dia berusaha agar tidak membonceng perempuan itu. Tapi ternyata salah satu temannya membaca niat adikku itu. Langsung saja, dengan nada tinggi mempertanyakan kenapa adikku tidak mau mengantarkannya. “Yang penting kan kita ga macem-macem dan punya niat ga baik?!!”

Dan imbasnya seperti ini. Sekarang ini aku berhadapan dengan seorang ikhwan yang sedang dalam proses perubahan, yang sedang ingin memperbaiki diri, yang sedang diajari oleh Allah untuk kuat dan memahami kenyataan yang ada sekarang. Aku hanya tersenyum melihatnya menangis, menunduk hebat, menutupi wajahnya kuat-kuat, menahan isakannya. Dalam hatiku, selamat datang dalam medan dakwah, adikku….

Aku pun teringat pula, di pertemuan rutin dengan adik-adikku tanggal 20 Juni 2008, sebelum semua orang berkumpul, satu lagi adikku datang. Matanya merah, menangis setelah shalat dua rakaat. “Aku malu mas, jadi pemimpin tapi minggu ini benar-benar ga pernah tilawah.” Lagi-lagi aku tersenyum padanya. Dia adalah orang yang sadar, orang yang melakukan kesalahan lalu menangis malu.

Mereka adalah gambaran awal diriku saat terjun dalam medan dakwah ini. Punya komitmen besar, punya semangat beribadah yang tinggi, mencari ilmu dengan semangat, jika diberi amanah walau banyak langsung mengerjakan semaksimal mungkin, berusaha menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah saw. dengan benar.

Ah, tapi lihat sekarang, aku mempertanyakan komitmenku pada dakwah sekarang. Apakah aku adalah orang yang berusaha membuat lingkuanganku menjadi lingkungan yang syar’i? Apakah aku adalah orang yang mencari-cari kesempatan untuk bisa menyampaikan kebaikan di lingkungan yang belum tersentuh dengan kenikmatan iman? Apakah keberadaan diriku dalam lingkungan amah bisa memberi perubahan?

Apakah aku seorang pengemban dakwah yang baik? Berbakat menyakiti hati saudaranya dan membuatnya marah, meremehkannya dan tidak lagi tsiqah padanya. Terlalu sering membuat orang lain kecewa. Ibadah-ibadah sunnah sudah tidak lagi menjadi penting, ah hanya sunnah ada amanah yang harus dilakukan sekarang. Aku lebih memilih menunda shalat wajib dan meneruskan rapat, dengan alasan sebentar lagi selesai. Membaca buku sudah malas, mengikuti kajian ilmu sudah tidak semangat, selalu saja ada amanah yang harus dikerjakan, selalu saja ada alasan untuk tidak hadir.

Diundang dalam pertemuan membicarakan kelangsungan dakwah kampus, harus selalu dipikirkan 1000 kali dulu baru berangkat, lalu terlambat datang tanpa merasa bersalah, selalu bertanya dan menyalahkan tanpa memberikan solusi. Sunnah-sunnah Rasulullah, seperti mendoakan orang bersin saja aku tidak lakukan, sekarang kepekaan sudah menipis, bahkan sudah tidak pernah lagi untuk melakukan hal-hal kecil yang Rasul saw. ajarkan. Sudah tidak lagi tilawah 1 juz per hari….

Aku prihatin dengan diriku. Aku berdoa agar mereka selalu ingat akan nikmatnya merasakan semangat berdakwah di saat-saat ini. Di saat-saat awal mereka terjun dalam dakwah, di saat-saat semua hal menjadi indah walau pahit. Agar mereka selalu dilindungi dari sifat malas, takabur, dan gila menjalankan amanah yang hanya urusan dunia yang belum tentu memberikan manfaat jika urusan akhirat jadi terlupa. Aku terlalu sibuk dengan dunia, tanpa berpikir bahwa semua kesuksesan itu ada karena Allah. Sungguh diri ini bukan hamba yang bersyukur.

Beban dakwah makin hari makin berat saja, namun kualitas diri makin hari makin turun saja. Saat kesulitan dakwah datang hanya keluhan yang keluar dari mulut ini, menyalahkan jika sesuatu tidak sesuai – bukannya memberikan solusi, dan ini ciri-ciri turunnya kualitas diri. Jika dakwah itu berat, maka jangan pernah minta untuk diringankan bebannya. Melainkan, mintalah punggung yang kuat agar dapat memikulnya. Kata-kata ini menyadarkanku, aku berada pada tingkat kualitas diri yang seperti apa….

Dalam semua helaan napasku saat menulis tulisan ini, aku berpikir bahwa terlalu banyak hikmah yang terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak, hanya masalahnya adalah aku bisa tangkap itu atau tidak. Ah…, ayat-ayatmu tersebar luas di sekitarku, namun terlalu banyak maksiat yang membuatku buta untuk melihatnya.

Maafkan hamba Allah…, Aku rindu ingin segera bertemu. Pantaskah?

2 thoughts on “Rindu Komitmen Dakwahku Saat Itu…

  1. Favian says:

    Wah mas…
    saya merasa terharu dan bergetar diri ini saat membaca tulisan sampeyan ini.

    Semoga sampeyan segera bangkit dan memberi kontribusi dalam medan dakwah ini.

    Jangan lupa untuk selalu mengingatkan adik sampeyan ini yg juga masih dlm tahap pembelajaran.

    http://faviandewanta.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: