Niat Baik yang Tertunda

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau meriwayatkan dari Tuhannya, Tabaaraka wa ta’aala. Firman-Nya : “Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka barangsiapa berniat mengerjakan kebaikan tetapi tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat untuk berbuat kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 10 sampai 700 kali kebaikan atau lebih banyak lagi. Jika ia berniat melakukan kejahatan, tetapi ia tidak mengerjakannya, Allah mencatatkan padanya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat melakukan kejahatan lalu dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan”.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada saat kita berniat untuk mengerjakan shalat dluha, lalu menundanya, berkata dalam hati, masih banyak waktu – nanti dulu, dan ternyata saat mau mengerjakan ternyata sudah adzan dzuhur,

Pada saat kita ingin berinfaq pada suatu hari, tapi tenyata terlupa sehingga tidak mengerjakannya,

atau Pada saat kita mengazzamkan kepada diri untuk bangun shalat malam tapi tenyata terbangun tepat saat adzan shalat subuh berkumandang,

Pada saat kita menargetkan tilawah satu hari adalah satu juz, namun ternyata sulit benar untuk menyelesaikannya bahkan satu halaman pun yang tersentuh,

atau apapun yang terbesit dalam hati, yang menyelip untuk beramal kebaikan, namun lagi-lagi semuanya hanya sekedar niat baik tanpa realisasi, maka engkau harus curiga ada yang tidak beres dengan dirimu, saudaraku.

Apakah hanya dengan niat baik saja sudah dapat kau katakan dirimu berprestasi? Sungguh benar apa yang Rasulullah saw. katakan bahwa berniat baik dihitung satu pahala, namun apakah menurutmu itu cukup agar ALLAH melihat kita sebagai seorang yang bersyukur, apakah menurutmu ini cukup agar ALLAH mau melihat kita atas semua kesalahan yang telah banyak kita perbuat lalu mengampuninya?

Lihat apa yang telah ALLAH berikan pada dirimu! Sangat banyak, teramat sangat banyak; mendapatkan ilmu agama yang baik, semangat untuk selalu bergerak untuk menyampaikan risalahNYA kepada orang lain, dapat menikmati bagaimana lezatnya shalat dan tilawah, dapat membedakan yang mana kebaikan yang mana kejahatan, merasakan ada ganjalan dalam hati saat melakukan kesalahan dan ingin bertobat, semua nikmat yang terkadang tidak engkau sadari. Okelah jika ini tidak kau sadari, namun apakah semua nikmat dzahir yang nampak pada dirimu juga kau syukuri? Nikmat kaki yang baik sehingga kau bisa berjalan dengan baik, nikmat tangan yang bekerja dengan baik untuk mengetik/ menulis semua tugas-tugas harian kita, nikmat bernafas, nikmat otak yang dapat berpikir dengan baik, nikmat jantung yang masih berdetak sampai sekarang – nikmat bahwa saat kau membaca tulisan ini berati kau masih diberikan kesempatan hidup dan memparbaiki diri.

Harusnya kau mulai curiga bahwa ada yang salah sehingga niat baik tidak bisa menjadi suatu amalan. Muhasabah, cari-cari kesalahnmu, kira-kira apa yang menyebabkanmu terhijab untuk melakukan begitu banyak kebaikan. Mungkinkah ada utang yang belum terlunasi, mungkinkah ada kata-kata atau kelakuan yang menyebabkan saudara kita tersakiti, atau mungkinkah mata kita masih sering digunakan untuk melihat yang tidak halal bagi kita, ataukah ada kemaksiatan yang masih konsisten kita lakukan, atau mungkinkah kita secara tidak sadar menyakiti perasaan orang tua kita karena kita tidak pernah memberi kabar atau dengan mengabaikan studi kita, atau masih adakah bid’ah dalam amalan-amalan yang kita lakukan? Atau mungkinkah terhijabnya kita untuk melakukan kebaikan karena begitu banyak amalan yang kita lalukan namun hanya untuk dilihat oleh makhluk? Pertanyakan kembali keikhlasan dan keshahihan amalan yang telah kita lakukan.

Engkau sungguh orang yang beruntung saat ALLAH mengijinkanmu untuk mengerjakan amal-amal shalih, karena itu berarti ALLAH memberikan dirimu kesempatan untuk berjalan di jalan setapak menuju syurga. Engkau orang-orang beruntung itu.

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

[QS. Asy Syuura(42): 23]

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

[QS. Al Zalzalah(99): 7]

Sungguh karena hanya ingin dapat rahmatNYAlah kita ingin selalu berprestasi di hadapanNYA. Niat baik itu benar, namun itu masih belum cukup, sungguh itu belum cukup.

Lihat dirimu, tanyakan pada hatimu, sudahkah semua yang kita anggap amal-amal shalih itu cukup agar kita pantas melihat wajahNYA di syurga kelak? Sungguh itu belum cukup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: