Sebatas Kemampuanku

Aku adalah seorang anak yang bahagia. Disisiku ada orangtua yang luar biasa. Cinta keluarga hidupkan semangatku. Bagai cerita pangeran di dunia mimpi. Dengan bahagia aku berkata hidupku punya arti.

Aku tahu kelemahanku tetapi aku tidak melihatnya seperti kelemahanku. Aku hidup di dunia bisa tertawa dan bisa menangis. Inilah bahagiaku.

(Dewantara Soepardi)

Sebuah tulisan sederhana dari seorang Dewa yang baru berusia 5 tahun, dari seorang bocah yang tak berdaya, tak mampu bergerak kecuali menggerakkan tangan, kaki, dan matanya tanpa arah di atas buaian ibunda, seorang bocah sederhana yang mengidap cerebral palsy.

Tulisan pendek yang mengukir bahwa betapa seorang anak begitu merasa bersyukur atas semua hal yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya. Tulisan sederhana yang menggambarkan bahwa betapa seorang anak mampu paham arti hidup dengan otak kecilnya yang 5 tahun. Hanya seorang bocah… Namun begitu banyak hikmah mengalir dari jari-jari kecilnya. Cita-citanya pun sederhana, Dewa mau terbang seperti kupu-kupu, Dewa sedang menjadi kepompong sekarang.

Yana, seorang sahabat yang sekarang kuliah di UPI Bandung, pernah mengatakan, “Terkadang kita tidak melakukan sesuatu dengan maksimal. Tidak punya cita-cita. Tidak mau berusaha. Anak itu tidak mampu, tapi mau kuliah.” Miris rasanya mendengar cerita Yana, tentang seorang yang memiliki keterbelakangan mental dan punya cita-cita untuk kuliah. Yana bilang bahwa dia hanya bisa diam saat temannya itu mengungkapkan hal itu dengan sangat semangat.”Ana cuma takut dia kecewa.” Yana hanya bisa bilang itu kepadaku.

Seorang teman di Al Imarat, kakinya bengkok, tidak bisa jalan dengan lurus dan cepat seperti kita semua, shalat hanya bisa dalam duduk saja, jika kita semua pergi ke lab bahasa lantai dua, dia hanya bisa bilang, “Tafadlal, akhi. Ana di sini aja. Susah gendong ana ke atas. ” Rasanya ingin temani beliau di kelas, tapi beliau bilang tidak usah. Selalu dalam hati aku bertanya, apa yang dirasakannya di saat-saat sendirian di kelas. Tapi mukanya selalu tersenyum dan penuh tawa. Jika ditanya ke seluruh teman di kelas. sebagian besar menjawab mereka bercita-cita pergi ke Kairo, Madinah , Mekah atau Libya untuk melanjutkan belajar, namun kata-kata itu tidak pernah terucap dari mulutnya.

Semuanya adalah anugerah. Baik itu bisa kita terima atau tidak. Semuanya adalah anugerah, itu yang paling cocok dan yang paling baik yang dipilihkan oleh Allah swt. buat kita. Aku dan dirimu mungkin masih merasa bahwa kekurangan dalam diri tidak akan ada obatnya, tidak mampu hilang pergi jauh dari hidup kita sehingga hidup kita bisa lebih tenang.

Tapi yang harus kita sadari sekarang, bahwa kurang itu yang buat dirimu dan Tuhanmu menjadi lebih akrab. Yang membuatmu sadar bahwa dirimu adalah seorang hamba yang tidak punya kemampuan apa-apa, tidak berdaya, lemah….

Berharap hanya kepada Allah swt.. Aku hanya bisa berusaha sebatas kemampuanku…. Selanjutnya biar Allah yang menentukan. Aku yakin bahwa skenario ini untuk diriku, hanya untuk diriku, aku tokoh utamanya dan aku akan buat cerita ini berakhir dengan happy ending. Khusnul khatimah….

Jalankan skenariomu juga… :)

Cuma ini batas kemampuanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: