Alergi ama…. KAMU!!!

Maafkanku untuk semua salah yang tak termaafkan….

Apaan ya artinya alergi…?

Ada yang bilang, alergi itu ga mau deket-deket ama debu karena bisa bikin asma kambuh, ga mau makan udang karena bisa gatel-gatel, ogah makan telor karena bisa bisulan, pengen jauh-jauh dari ikan karena selalu bikin mau muntah….

Yup! Itu dia alergi, suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Sedang allergen adalah sesuatu yang tidak mau kita dekati karena kita sudah tahu akan punya dampak buruk bagi kita, yang bisa bikin alergi kita kambuh. Lha, kalau alergi sama saudara sendiri bagaimana ceritanya? Alergi jenis akut yang dapat merusak diri dan orang lain.

Banyak teman yang cerita, banyak sahabat yang mengungkapkan, bahkan diri ini mengakui, bahwa kita semua pernah mengalami -bahkan mungkin sedang mengalami- masa dimana kita menjadi allergen atau sedang alergi kepada saudara kita sendiri. Efek samping alergi jenis ini pun macam-macam.

1. Tidak mau dekat-dekat

Ini yang paling jelas terlihat, jika ada kita dalam komunitas tertentu, maka dia akan pelan-pelan menjauhi komunitas itu karena ada kita di dalamnya. Kalau dia sedang berkumpul dengan teman yang lain, saat kita mendekat, maka dia tiba-tiba undur diri dengan berbagai alasan. Apabila terpaksa berada dalam lingkungan yang sama, maka ingin cepat-cepat pergi dari lingkungan tersebut dan terlihat resah dan gelisah, “Malas lihat mukamu!

2. No Smile, no salam

Tidak ada salam dan senyum untuk dirimu!” Bisa dibilang kasarnya begitu kalau kita menyelam ke dalam hati orang tersebut. Saat kita memberikan senyum dengan maksud untuk mencairkan suasana maka dengan dingin dia akan berpaling. Jika kita menyengajakan mengeraskan salam di suatu ruangan yang hanya ada kita dan dia saja saat itu, maka tak ada salam yang dibalas. Jika kita berada pada acara bersama, maka dia akan cepat-cepat pergi tanpa memberikan tangan untuk salaman seperti biasa.

3. Tidak saling bicara

Jangan ditanya, alergi jenis ini bisa buat mulut jadi hilang kemampuan untuk bicara, khususnya saat ada kita. Enggan tunjukkan karakter dirinya di depan orang lain saat ada kita. Yang periang jadi banyak diam, yang kalem bisa tiba-tiba jadi ribut banget. Berbeda karena kita ada. Dan jika kita bertanya sesuatu dengan tujuan agar akrab lagi, maka hanya diam yang kita dapat, dia melengos pergi tanpa respon apapun dengan muka tanpa ekspresi. Seram….

4. Su’udzan

Ini dia yang parah, bisa bikin su’udzan tiap kali melihat kita. Jika kita melakukan sesuatu, maka dibilang bikin provokasi. Jika kita ramah dibilang pura-pura. Jika kita terlihat bareng dengan teman yang biasanya bersamanya, dibilang mau merebut hati teman-temannya. Ini tahapan paling akut dari alergi jenis ini. Tidak boleh dibiarkan.

Lalu bertanya-tanya kenapa hal selebay pernyataan-pernyataan di atas bisa terjadi? Kenapa kita bisa menjadi sebuah allergen bagi saudara kita?

Maka dipercaya bahwa saat itu terjadi karena kita dianggap mengkhianatinya, menusuknya dari belakang, kita sudah benar-benar membuat hatinya sakit, idak hanya sekali bahkan barkali-kali. Dia berusaha untuk memaafkan untuk yang pertama kali, lalu ternyata kau lakukan itu yang kedua kali, lalu dia maafkan lagi, namun tidak jera juga kau lakukan yang ketiga kali, keempat, kelima, dan seterusnya, sehingga dia tak mampu menahan dan akhirnya…. Alhasil kita menjadi allergen untuknya. Dan saat kau sudah benar-benar ingin berubah maka saat itu adalah sudah sangat terlambat, saat yang sulit untuk memaafkan. Sangat MANUSIAWI.

Siapa yang salah? Bisa jadi dua-duanya yang salah. Tidak ada mekanisme saling mengingatkan, tidak ada komunikasi, tidak ada yang mengalah, tidak ada yang menurunkan gengsi pribadinya duluan, terlalu banyak faktor yang bisa menyebabkan ini. Ustadz Khozin Abu Faqih, dalam suatu kesempatan pernah menjelaskan, “Maka kenapa Rasulullah menganjurkan tidak boleh manusia sampai menyimpan rasa dengki lebih dari 3 hari, karena jika sudah melebihinya maka akan merusak hati.” Hati rusak maka rusak seluruh tubuh pun rusak.

Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Apakah kesabaran ada batasnya? Sabar tidak ada batasnya. Emangnya sabar gampang! Betul banget, sabar itu tidak gampang. Tapi beruntunglah orang-orang yang sabar.

Jika ini terjadi maka kedua belah pihak harus bisa instrospeksi. Tapi ada ungkapan yang menyatakan, nasi sudah menjadi bubur. Berusaha sekuat tenaga agar semuanya kembali seperti semula dan azzamkan dalam diri bahwa kita tak akan ulangin kesalahan itu lagi, mungkin dapat mengubah bubur itu menjadi bubur ayam. Saling mengingatkan dan lihat saudaramu hanya sebagai manusia yang punya potensi besar berbuat SALAH adalah obat paling manjur untuk hilangkan virus setan yang menyebabkan alergi ini menjangkiti. Wallahu a’lam.

Ah…, tidak pernah tahu yang mana yang benar, yang mana yang salah. Maka hanya kepada ALLAH-lah kita memohon agar kita selalu ditunjuki jalan yang benar, tidak bertindak hanya sesuai dengan pikiran kita semata. Pikiran kita yang dhaif lagi penuh salah. Semua hal pasti bisa jadi hikmah.

Hanya kepada ALLAH-lah aku memohon ampun….

Rasulullah juga pernah bersabda, “Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak ada satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.”

(Mutafaq’alaih)

Maafkanku untuk semua salah yang benar-benar tak termaafkan…

6 thoughts on “Alergi ama…. KAMU!!!

  1. baru sekitar 3 mingggu yg lalu gw mengidap ‘alergi’ ma seseorang, skrg udah gak terlalu parah. alasan kenapa bisa alregi? ada deh (it’s private).
    lalu kenpa gw milih ut alergi? karena gw mau tahu sejauh mana dia juga care (in the positive way) ama gw as a response of caring yg gw beri. hasilnya, ternyata kita gak bisa terlalu berharap ma orang lain karena orang lain itu beda ama diri kita. mereka punya masalah sendiri, urusan sendiri, dan kadang itu too private to share. jadi musti understand posisi orang lain itu.
    tapi tt communication yg terputus, yup, it is. yg dibutuhkan kemudian adalah ‘pengorbanan gengsi’ dari salah satu dari dua pihak yg terlibat alergi.
    kl gw sih kemudian berusaha ut act like nothing wrong had happened :D

    nah, skrg gw lagi mendiamkan seseorang. and gw berencana make 3 hari jatah ‘musuhan’ buat ngasi lesson buat dia. siapa dia? that a secret that you don’t need to know (XOXO)
    hehehehehehe
    parah ya gw :D

  2. sari says:

    masyaAllah…
    wah, parah!!!

    hmm, ternyata bersabar itu harus dg cara yg baik lho..
    [al ma’arij :05]
    kmdn kata Allah swt: “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)
    Saling memaafkan kyknya ga hrs nunggu lebaran,
    so, maaf lahir batin ya [semuanya]…^^

  3. aGung says:

    za ane juga alergi, kaloooo…. ga deket kamu he3x :)

  4. Apa yang harus dilakukan kala diri ini dianggap allergen dan diri ini menyadarinya?

    Hampir genap seminggu saya pernah jadi allergen bagi seorang sahabat dan saya menyadarinya! Sungguh menyakitkan apalagi dikala diri ini tak dapat berbuat apa-apa. Ia menjauh. Dan saya tahu betul itu.

    Ya Allah.. Sakit! Perih sekali!
    Hanya dapat menghela napas panjang kala ia memalingkan wajahnya. Seraya mengingatkan diri untuk bersabar.
    Hanya dapat menunduk tatkala ia membalikkan tubuhnya dan berlalu begitu saja. Seraya berharap, “ya Allah.. Semoga ini segera berlalu..” dan mengutuki diri, “Lagi-lagi aku berbuat salah! Ini semua adalah sebuah konsekuensi dari kesalahanmu, Put..”
    Untunglah ada sidang TA dan kesibukan lain yang mengalihkan perhatian.

    Saya tidak mau ini terulang. Cukup satu kali itu saja. (Bahkan dengan mengingatnya saja membuat hati ini bersedih)

    Alhamdulillah ukhuwah kami terselamatkan. Dengan bantuan mediasi (penengah), komunikasi, keterbukaan, dan (tentu saja) rasa “cinta karena Allah”.

    Kala mengingat kembali :
    “Untuk apa engkau berukhuwah?” (jawabnya : untuk mencapai ridho Allah
    “Karena apa engkau mencintainya?” (jawabnya : karena Allah)
    “Berapa banyak yang sudah kita lewati bersama?” “Apakah seperti ini akhir yang aku inginkan?”
    Maka ego itu pun luruh..
    Berguguran..

    Menjadi “allergen” itu menyakitkan! Apalagi jika ia adalah orang yang kau sayangi.
    Menjadi “seorang yang alergi” itu juga menyakitkan! Menyimpan amarah. Menanggung beban di hati. Mengelak dari rasa sayang yang dirasa.

    Teruntuk sahabatku : jika engkau membaca ini, (dan aku harap kau membaca ini) sekali lagi aku ingin menyampaikan kepadamu : “maafkan aku..” dan “jazakillah ahsanul jaza atas rasa sayang yang ku dapatkan darimu hingga kini.” :)

  5. febryanti says:

    alergi terhadap seseorang memang menyakitkan, saya pernah berada di posisi yang alergi thd seseorang dan menjadi orang yang di alergi-in sama orang lain… jadi saya tahu bagaimana sakitnya di kedua posisi tersebut.

    saat di posisi kita di-alergi-in sama orang : bingung (apalagi biasanya orang tsb menjauh tanpa sebab yang jelas), berusaha mencari tahu dengan cara mendekatinya yang didapat malah penolakan-penolakan yang lebih jelas lagi (dan ini mungkin puncak rasa sakit yang teramat dalam), saat itu yang saya bisa lakukan hanya menerima, dan berusaha menyesuaikan sikap dengan tidak terlalu sering menmpakkan diri di sekitar orang tsb (lebih baik saya pergi dari pada dengan kehadiran saya dia semakin terluka, walaupun saya tidak tahu salah saya dimana)

    Saat saya di posisi orang yang mengidap alergi :
    Awalnya saya tidak menyadari kalo saya mengidap penyakit ini, karena penarikan diri saya terhadap orang tsb bukan karena benci, tapi karena memang saya tipe orang yang jika ada masalah lebih nyaman jika ditinggal sendiri tanpa ada orang lain di sekitar. Tapi, entah kenapa penarikan diri terhadap orang tsb semakin lama manjadi kebiasaan, yang akhirnya mungkin akhinya orang tsb menganggap saya “alergi” sama dia.. tapi sebenarnya sikap saya itu spontan, tidakk dibuat-buat… semoga saya segera sembuh..

    Bukankah salah satu yang penting saat kita mengidap suatu penyakit adalah “saat kita (penderita) menyadari bahwa kita sakit,kita tidak memungkirinya, dan kita berusah untuk mengobatinya”

  6. risna1911z says:

    tapi susah juga ya ternyata kalo kita harus tetep bersikap baiiiik ma temen kita padahal kita dah kecewa abis ma dy.
    Rasulullah memang bener2 contoh yang hebat,, karena beliau bisa bersikap baik dengan sapa aja bahkan orang yang senantiasa berbuat jahat dengan beliau.

    oya it’s my first comment in ur blog…
    keep writing, key…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: