Lindungi Aku Dari Putus Asa

Lindungi aku dari putus asa….

Suatu hari, di suatu tempat,

Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan – mengintipnya – sedang meratap, menangis sendirian, memukul-mukul lantai di depannya, terisak keras, lalu berteriak, “Engkau curang, ya Rabb!!! Tidak adil!” Dan tangisnya makin pecah, sesenggukan. Menengadah dan bicara putus-putus. Seakan di depannya ada sesorang. Dia protes. Tangan mengepal memukul-mukul lantai di depannya dan menunduk sangat dalam, butir-butir kecil itu sangat terlihat – dalam jarak pandangku – menetes tidak berhenti.

“Kenapa harus hamba yang Engkau berikan cobaan ini?! Tidak orang lain! Mereka melihatku berbeda, padahal mereka tidak tahu apa-apa! Apakah Engkau memilih orang yang tepat, ya Rabb untuk mengemban cobaan ini? Apakah hamba orang yang tepat, ya Allah?” Lalu menangis lagi. “Sungguh hamba tidak sanggup. Tidak sanggup, ya Allah.” Menangis lagi.

“Engkau janji…, Engkau janji, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Maka hamba memohon berikan janji itu kepada hamba. Sekarang! Sekarang, ya Rabb. Aku tidak sanggup lagi. Arghhh…!!!” Dia memukul-mukul lantai, lebih keras lagi. “Mana, ya Rabb… mana…?!”

“Engkau bilang…, Kau bilang, kalau Engkau tidak akan bebankan sesuatu yang tidak sanggup hambaMU emban…. Hamba sudah tak sanggup! Tolong hamba, ya Rabb. Tolong hamba. TOLONG YA ALLAH….” Dia pun meledak. Menangis sangat lama. Terisak, setengah teriak. Sesenggukan, melap ingus dan air matanya yang tidak kunjung reda mengalir.

“Engkau lihat hamba, ya Rabb. Hamba lemah, hamba sangat amat lemah. Hamba bodoh, sangat amat bodoh. Hamba tak punya daya apa pun, plissss tolong hamba…, tolong ya Allah….” Menangis lagi. Aku hanya dapat memandangnya dari kejauhan, tidak berani menghampiri. Hanya bisa iba, memohon agar kemudahan yang dia minta dapat segera hadir. Sebelum aku hendak meninggalkannya, ada kalimat kecil yang putus-putus dia ucapkan. Dalam senggukannya dia mencoba untuk mengucapkan,

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…, innalillahi wa inna ilaihi rajiun, innalillahi wa inna ilaihi rajiun….” Aku lalu berlalu meninggalkannya dalam kesendiriannya. Membiarkannya menangis sendirian. Biar dia dan Allah saja yang berada di tempat itu sekarang.

Aku tak tahu apa yang menyebabkannya begitu kecewa, begitu putus asa. Tapi aku yakin, dialah orang yang tepat untuk mengembannya, apa pun itu. Allah perlakukan tiap manusia adil, tiap orang adalah special menurutNYA, maka perlakuan special pun akan diberikanNYA. Apa pun itu.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

(QS. Al ‘Ankabuut[29]: 2)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ….

(QS. Al Baqarah[2]: 286)

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

(QS. Al Insyiraah[94]: 5-6)

Wallahu a’lam bish shawaab….

Lindungi hamba dari putus asa dari rahmatMU….

5 thoughts on “Lindungi Aku Dari Putus Asa

  1. andalas says:

    subhanalallah akhiy

  2. agus styaat says:

    BEDA KASUS BEDA CERITA…SESUNGGUHNYA SAAT INI NENTAH SAMPAI KAPAN SY JUGA ALAMI HAL INI..PUTUS ASA BERKEPANJANGAN…IMAN NAIK TURUN…ILMU YANG DIDAPAT SEAKAN SIA2….

    FB
    …AGUS STYAAT..SALAM SILATURAHMI…

  3. ristia says:

    saya mengalami hal ini

  4. suzan says:

    saya sampe “berani” bilang: Ya Rabb…kalo sampe aku bunuh diri, itu karena Engaku lo ya!!!
    Ya Rabb..lindungi aku dari putus asa atas Rahkamt Mu..

  5. Hadi kesuma says:

    Ya allah apa gerangan yg harus hamba lakukan pada saat ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: