Menghargai Ayah

Aku cuma berusaha untuk membantu saudariku, yang menuliskan kisah -yang wallahu ‘alam, aku tidak bisa komentar apa pun- atas apa yang beliau alami. Menuliskan sedikit, beliau ingin pandanganmu (semua orang yang membaca) mengenai kisahnya. Aku tidak mampu menanggapi apa pun saat mengetahuinya pertama kali.

Ya Allah.. hari ini Engkau benar-benar menunjukkan kekuasaanmu. Hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana caranya menghormati ayah.

Sebagai perkenalan, aku ini adalah anak bungsu dari istri pertama ayahku. Saat aku berumur 2 tahun ayah saya menikah lagi secara diam-diam dengan istri keduanya. Istri kedua ayahku itu sebelumnya janda beranak tiga. Dari pernikahannya dengan ayahku diperoleh empat orang anak yang kemudian kusebut adikku. Walaupun diam-diam -tetap saja- yang namanya bangkai pasti akan tercium juga baunya. Selama lima tahun ayahku membohongi ibuku dan anak-anaknya. Dan akhirnya ibuku pun mengetahui peristiwa menyedihkan tersebut.

Aku lebih terbiasa untuk hidup tanpa ada ayah di rumah. Ayahku ini bekerja di luar kota dan jarang pulang ke rumah. Kalau pun pulang, bisanya malam dan sehabis shalat subuh berjamaah di mesjid, ayahku langsung pergi lagi karena lokasi kantornya yang terletak di luar kota.

Di satu sisi aku sangat bangga pada ayahku karena kejujurannya dalam menjalankan tugas sebagai pegawai negeri sipil. Ayahku tidak pernah mau menerima uang suap dari rekan-rekan bisnisnya. Ayahku juga tidak pernah mau menandatangani anggaran keuangan yang berlebihan, terlebih memark-up anggaran yang notabene berasal dari uang rakyat. Ayahku ini insyaAllah benar-benar menafkahi keluarganya dengan cara yang halal, walaupun kita harus hidup sangat sederhana dengan kondisi ayahku yang memiliki dua istri dan sembilan anak.

Di sisi lain aku sering merasa kesal pada ayahku. Dengan kondisi kami yang seperti itu, ayahku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Sering kali ayahku mendidik anak-anaknya dengan kekerasan, mungkin karena latar belakang pendidikannya yang semimiliter. Aku saja pernah dua kali mendapat sentuhan keras di pipi saat aku berumur empat tahun dan dua belas tahun. Di antara enam anak kandungnya, hanya anak paling besar dan yang paling kecil saja yang belum mendapat sentuhan keras pada bagian tubuhnya.

Selain itu aku juga kesal kalau aku baru berkenalan dengan teman baruku. Saat mereka bertanya tentang keluargaku aku sering bingung harus menjawab apa. Aku menyaksikan saat ibuku mengetahui peristiwa menyedihkan itu. Aku sungguh shock dengan kejadian itu. Ayahku mulai melunak saat cucu pertamanya lahir.

Selama 20 tahun aku hidup, aku pun mulai dapat melupakan peristiwa menyedihkan itu. Hingga akhirnya pada suatu malam minggu, saat aku liburan sejenak dari kuliahku, aku mendapati ayahku telah menikah lagi dengan seorang janda tua yang seumur dengan neneku. Mengapa luka itu harus terbuka lagi. Luka lama itu sudah hampir kering. Tapi kenapa ayahku menambah luka lagi di tempat yang sama.

Sejak hari itu, pembicaraan antara aku dan ayah yang sudah hampir cair itu kembali membeku. Sangat beku. Hingga aku sulit untuk berkata-kata lagi. Kecewa, sungguh aku kecewa. Rasa sayangku mulai berkurang dan semakin luruh seiring dengan kebohongan-kebohongan yang disampaikan ayahku. Untuk berkomunikasi saja, aku harus meminta ibuku untuk menjadi perantaranya. Aku tak setegar ibuku yang bisa menerima dengan “ikhlas” kondisi ayahku yang seperti itu.

Hari ini, saat aku menonton sebuah reality show di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, aku tersentuh dengan seorang anak yang mencari ayahnya. Padahal dia tidak pernah diakui sebagai anak oleh ayahnya karena dia adalah anak dari istri keduanya. Anak itu bertemu dengan saudara tirinya yang matanya sudah buta karena kecelakaan saat mengejar ayah mereka di suatu tempat. Kemudian mereka berdua bersama mencari ayah mereka dan mereka mau memaafkan ayah mereka itu, dan mengajak ayahnya untuk tinggal bersama. Sungguh aku tersentuh melihat peristiwa itu. Mengapa aku aku tidak bisa seperti mereka yang dengan ikhlas memaafkan ayah mereka.

Dan di hari yang sama pula, hari ini, aku mendapat kabar bahwa ayahku memiliki penyakit (sampai sekarang aku belum tahu pasti apa jenis penyakitnya). Yang pasti beliau harus menjalani operasi untuk mengobati penyakit itu. Penyakit itu sudah ada sejak lima tahun yang lalu dan ayahku kembali berbohong untuk menyembunyikan hal itu. Selama lima tahun terakhir ini, ayahku selalu berpesan,

“Titip adik-adik ya.. insyaAllah bapa sudah siapkan dana untuk adik-adikmu. Kalau masih kurang, jual saja tanah yang ada.” Beliau berkata sambil menyebutkan lokasi-lokasi tanah berada.

“Kalau adik yang perempuan tidak usah terlalu dipikirkan, toh nanti juga dibawa suaminya. Bapa cuma titip adik yang laki-laki, tolong disekolahkan hingga dia jadi orang sukses karena dia akan menjadi seorang kepala keluarga. Satu lagi, jangan kuburin bapa kalau bapa belum meninggal.” Selalu itu yang beliau ucapkan.

Hari ini, 14 Maret 2009, aku telah belajar satu hal yang sangat berharga yaitu bagaimana caranya menghargai ayah.

Aku yakin tiap individu punya kisahnya masing-masing. Jadi tokoh utama untuk kisahnya sendiri, dan punya pilihan untuk mengakhiri kisah itu dengan akhir seperti apa. Semoga selalu ada hikmah untuk setiap kisah dan selalu ada akhir yang baik pada akhirnya.

Wallahu ‘alam bish shawab.

One thought on “Menghargai Ayah

  1. idduz says:

    assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh

    yah…begitulah kira2 hidup…
    dan q juga punya temen…dengan kisah hidup yang mirip dengan kisah di atas…
    gimana yah…memang yang paling di takuti (sungkan) dalam keluarga itu adalah ayah…
    karena dialah sosok yang paling bertanggungjawab atas semua anggota keluarga…
    dan seorang ayah tidak lepas dari kesalahan-kesalahan dalam usaha menjaga keutuhan dan ketenteraman sebuah keluarga…dengan didikan keras…dengan semua kegiatan yang dilakukan harus perfect dan bagus…dimana semua harus jalan sesuai dengan keinginannya…q tidak mengerti itu…dan jika sebuah kesalahan kecil yang kita lakukan…maka sebuah dampratan, omelan, marahan besar akan kita dapat…mungkin menurutnya itu adalah sebuah didikan…tapi menurut kita( q-red ) sebuah malapetaka…apakah kita (sy-red) akan jauh dari seorang ayah…yang merupakan istri dari ibu kita…ayah dari kakak dan adik kita…yang menafkahi seluruh anggota keluarga…q rasa tidak…seburuk dan sejelek apapun yang dia perbuat toh dia tetap ayah kita…yang patut kita kasihi dan cintai…yang patut kita sayangi dan doakan atas segala nafkah, usaha, kebaikan, dan masih banyak lagi yang dia berikan kepada kita…walaupun kita tidak sadar atas kebaikannya itu…cobalah kita bersabar, ikhlas, dan tawakal atas semua yang terjadi…karena mungkin itulah jalah terbaik yang diberikan oleh Allah kepada kita…bisa jadi itu adalah cobaan sehingga kita patut bersabar dan ber’istigfar…

    untuk penulisnya…
    q pikir memang menyakitkan kalau orang yang kita banggakan dan kita puji2 melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar menurut kita…apalagi itu adalah sesosok orang yang kita panggil AYAH….
    tapi camkan bahwa…alangkah pedih…alangkah teriris…dan alangkah tersayatnya hati ini…jika kita belum mengucapkan,katakan,obrolkan kepada orang yang kita kagumi itu yang kita panggil AYAH…karena telah dipanggil sama Maha Pencipta…

    q tidak sekedar bicara…q tidak sekedar ngobrol…SAUDARI q
    karena itu semua juga kurasakan sendiri…
    q hanya bisa berpesan kepada SAUDARI q ini entah siapapun itu…
    SABAR, IKHLAS, TAWAKAL, dan berdoa kepada ALLAH…
    semoga DIA menguatkanmu dalam menghadapi setiap ujiannya….
    dan q doakan juga semoga engkau diberi kekuatan untuk menghadapinya…

    wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: