Maksiat

Dia datang menutup matamu, menutup telingamu, memegang bahumu kencang-kencang, menggenggam tanganmu rapat-rapat… Lalu dia pelan-pelan membuka matamu, mengarahkannya kepada apa yang dia mau, menarik kakimu untuk bergerak mendekat, mendorong punggungmu untuk merapat sedapat mungkin agar memudahkanmu untuk melihat.

Banyak hal di sekitarmu yang terlihat dapat membuatmu ingat. Mata hatimu yang mengecil menangkap ‘cahaya’. Kau mencoba untuk membuka matamu, menghancurkan kacamata kuda yang dipasang olehnya untuk tetap melihat apa yang ingin dia perlihatkan. Kau berontak untuk melepaskan belenggu yang merantaimu kuat, tapi ternyata kau tak cukup kuat untuk melawan dan melepas semua ikat.

Dia tidak lengah… Segera dia tutup lagi matamu agar kau diam. Agar kau tak bergerak menggangunya untuk memberikan navigasi. Agar kau bungkam. Bungkam dan merasa ‘senang’. Dia tutup matamu lagi. Memberikan berbagai motivasi-motivasi. Begitu banyak bayang-bayang kenikmatan dan kebahagiaan tak tertandingi.

Lalu pelan-pelan dia membuka matamu lagi. Memberikan komando bagaimana merealisasikan semua bayang-bayang yang tadi kau alami. Banyak hal di sekitarmu yang terdengar dapat membuatmu ingat. Telinga batinmu yang menciut menangkap ‘lantunan asa’. Kau mencoba mendobrak, berusaha merusak dan menarik tutup telinga yang menancap kuat. Berusaha tetap mendengarkan agar segera pulih dan sadar. Berontak menarik semua rantai yang melilitmu. Berusaha menajamkan hati agar menang dalam pertarungan. Tapi dirimu tak cukup tenaga.

Dia lalu sigap menyumpal kembali telingamu. Membuatmu tak mendengar apapun selain bisikannya…, hanya bisikannya. Lalu dia datang mendekat, memelukmu, mendekati telingamu dan berbisik lirih namun penuh dengan angan-angan menjanjikan. Menjangkitimu dengan kata-kata manis -yang kau tahu palsu- menggiurkan. Lalu kau tenang lagi dan hanyut dalam rayu dan bujuknya. Lalu dia membentuk filter pada indra pendengarmu itu. Filter hasil kesepakatan bersama antara kau dan dia saat itu. Filter kenikmatan….

Apakah kau sadar? Jelas kau sadar saat itu. Dirimu tahu bahwa kau kalah lagi. Dirimu kembali memberikan permisi kepadanya untuk menjerumuskanmu. Mendorongmu makin dalam ke dalam lubang kenistaan. Kau hilang kendali tubuhmu sendiri. Kau hanya sebuah boneka tali yang senang ditertawai. Tak punya hati, tak punya iman, mengaku islam, namun tanpa ketakwaan.

Lalu saat dia melepas semua rantai yang mengingatku. Saat itu kau hanya bisa duduk sendiri dalam lumuran tinta hitam yang diguyur olehnya. Tinta hitam yang jadi bayang-bayang kebagiaanmu tadi, tinta hitam yang jadi angan-angan kenikmatanmu tadi. Dia menarik rantai yang melilitmu tanpa kecuali, membuka tutup matamu, dan menarik sumpal telingamu agar kau terpuruk jatuh dan merasa hina dina. Merasa kalah tanpa perlawanan-menjadi seorang PECUNDANG. Dia pergi dengan santai dengan tertawa. Berjanji akan kembali. Kau hanya menyeracau mengutuknya, namun dia hanya tersenyum, lalu berkata, “COBA SAJA JIKA KAU BISA MENOLAKKU…

3 thoughts on “Maksiat

  1. akhirnye diupdate juga blognya akh… *senangnya… :D
    lagi diujung dunia manakah dirimu kk Panda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: