Hidayah

Aku tidak pernah tahu; apakah aku yang kurang sabar, atau dia yang sudah mulai berlebihan… Marah itu karena Allah kah? Tipis; batasnya tipis sehingga aku tak mampu tahu…

Salah satu cerita mengharukan dalam hidup Rasulullah saw. adalah saat beliau tidak mampu menuntun pamannya dalam keislaman yang dibawa olehnya…

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, dari Ibnul Musayyab, bahwa bapaknya berkata: “Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan pada saat itu ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu jahal berada di sisinya, maka beliau bersabda kepadanya:

Wahai pamanku! Ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untuk (membela)-mu di hadapan Allah.” Tetapi disambut oleh Abu Umayyah dan Abu jahal: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap pada agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan La ilaha Illallah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.” Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya).” (QS. At Taubah: 113)

Dan mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan firman-nya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)

Walau Rasululllah ingin, namun jika memang Allah tak berkehendak maka tidak akan turun hidayah itu… Walaupun aku sangat ingin, namun jika Allah tidak mengijinkan pemahaman itu turun kepada orang-orang terdekatku, orang-orang yang sudah aku angap seperti keluarga sendiri, mereka yang bukan lagi siapa-siapa, maka aku tidak akan mampu berbuat apapun kecuali menjalankan kewajiban saja. Kewajiban mengingatkan mereka.

Tapi aku tidak cukup punya sabar seperti nabi Nuh as. yang berdakwah hingga 950 tahun kepada umatnya tanpa lelah sampai titik terakhir. Aku tak punya kesanggupan untuk mengingatkan pelan-pelan seperti Rasulullah saw. kepada Quraisy yang selalu membangkang… Akhirnya aku berlaku sebagai hamba dengan selemah-lemah iman dengan hanya memanjatkan doa kepadaMU, agar Engkau selalu cinta mereka orang-orang tercintaku…

Wallahu a’lam…

Cintai mereka dengan caraMU, ya Allah… Karena KAU yang paling tahu bagaimana cara mencintai seorang hamba… Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: