Bahagia

Bahagia itu seperti melihat kunang-kunang di dalam kegelapan. Langit medung menggantung, tanpa bintang satupun, hanya gelap mengurung seluruh sudut pandang. Kemudian melihat pendar kecil samar timbul hilang, mengerjap lalu tahu itu kunang-kunang, dan seketika kau tersenyum…, Itu namanya bahagia.

Bahagia itu seperti melihat pelangi setelah hujan lebat berlipat-lipat. Berlipat karena lebat, berlipat lagi beserta angin dan gelegar halilintar menciutkan nyali. Lalu saat bulir terakhirpun tak terasa lagi, langit dihiasi pelangi, dan kau ber-‘wow’ tanpa nada hanya dalam hati, lalu kau seketika tersenyum…, Itu dia disebut bahagia.

Bahagia itu layaknya seorang pendaki mencapai puncak. Dari bawah berjalan dengan kesungguhan lebih tinggi dari puncaknya. Di tengah tertatih namun menolak bilang kata menyerah. Saat lelah membisiki hati dengan motivasi,’sebentar lagi’. Lalu mencapai puncak, melihat bahwa diri lebih tinggi daripada awan, mengangkat tangan lebar, (reflek) berteriak, lalu tertawa sangat keras…, Ini dia sejatinya bahagia.

Walau tidak perlu sengsara agar bisa merasakan bahagia, walau tidak butuh menderita untuk bisa menikmati bahagia. Namun menjadi seorang insan, yaitu sadar bahwa konsekuensi hidup adalah cobaan, bahwa komitmen berkata bahwa ‘aku seorang hamba’ adalah ujian.

Do the people think that they will be left to say, “We believe” and they will not be tried? [QS. Al Ankabut: 2]

Terlalu dinikah berpikir bahwa sebentar lagi diri ini mati? Tidak ada penjelasan untuk pertanyaan ini. Hanya untuk ditanam di benak masing-masing. Apakah yang ditanam bisa jadi benih tumbuh besar jadi rindang, atau ditanam jadi benih kosong tidak bergerak kemana pun; mungkin tumbuh, mungkin juga mati di tempat. Menjadi hamba yang mati sebelum mati…. Naudzubillah…

Bahagia itu seperti masuk syurga. Berjalan tertatih menghadapi ujian, babak belur tempuhi cobaan, terkadang dihadapkan dengan maksiat menyenangkan namun menolak, terkadang diserang oleh bid’ah namun tetap berpegang teguh pada karang sunnah. Lalu saat waktu menghadap, bisa menjawab tanya dari para malaikat, mendapat teman yang menemani sampai kiamat mendekat, lalu masuk syurga tanpa siksa yang membebat, melihat Rasul tersenyum dengan syafaat, kemudian memandang kepada wajah yang paling dirindu – wajah Allah azza wa jalla – disana kelak…, Lalu kau tersenyum…

Dan selamat, kau mendapatkan sebenar-benarnya kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: