Nama Suami di Belakang Nama Istri

Baru tahu, ternyata tidak boleh menisbatkan nama suami di belakang nama istrinya.

Setelah membaca artikel-artikel yang ada dan memang artikelnya panjang-panjang dan diambil dari kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama yang tidak sembarangan. Lumayan puyeng, font arabnya tidak enak dibaca, dan yang pasti aku pun tidak mengerti bahasa arab sama sekali, jadi maklum lah kalau agak pening bacanya. ^^v

Bisa jadi ini resum dari apa yang ku baca. Ini penjelasannya.

Intinya adalah pada larangan menisbatkan nama seorang anak dengan nama selain ayahnya. Misal Fulanah binti Fulan sedang Fulan bukanlah ayah dari Fulanah. Ini dilarang sebagaimana disebutkan dalam hadis di bawah ini,

Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah” [HR. Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu]

Karena memang sebaik-baik nama itu menggunakan nama ayahnya,

Allah berfirman yang artinya, “Panggilan mereka dengan menasabkan mereka kepada ayah mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah” [QS Al-Ahzab: 5]

Ada juga hadis yang senada, namun tidak kucantumkan di sini.  Bisa dibaca langsung dari sumbernya.

Ini terang menjelaskan bahwa seorang istri tidak boleh menambahkan namanya dengan nama suaminya yang jelas-jelas bukan nama ayahnya. Karena fenomena yang terjadi sekarang adalah nama istri biasanya diikuti oleh nama suami. Jika Zaid suami dan Zainab istrinya, maka biasanya nama istri jadi Zainab Zaid, seperti istri Bill Clinton yang berubah nama menjadi Hillary Clinton.

Pemberlakuan yang dibolehkan adalah dengan memberikan suatu keterangan: misalkan Astuti menikah dengan Rahmat, maka silahkan memperkenalkan diri dengan sebutan: Astusti istrinya Rahmat atau hanya dengan Nyonya Rahmat atau Ibu Rahmat. Ini tidak masalah. Karena ini tidak berkaitan dengan garis keturunan. Karena di dalam hukum Islam jika Astuti menggabungkan namanya menjadi Astuti Rahmat, hal itu berarti Astuti anak dari laki-laki yang bernama Rahmat.

Nah, ternyata yang disunnahkan adalah seorang istri menggunakan nama kun-yah. Nama kun-yah adalah nama panggilan, nama julukan, nama sapaan, atau bahkan nama penghormatan yang biasanya dinisbatkan kepada nama anak atau kepada nama bapaknya (Contoh; Abu Abdurahman sebagai kun-yah untuk bapaknya Abdurahman, dan Ibnu Ustman sebagai kun-yah anaknya Ustman).

Rasulullah saw. bersabda, “Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]

Jangan bertanya kenapa ini dilarang dalam Islam?

Makin hari manusia makin pintar lalu terjerumus. Sering sekali bertanya tentang sesuatu yang tidak perlu ditanya lagi padahal tahu bahwa dasar hukumnya sudah jelas. Aih, terkadang banyak hal yang tidak perlu dijelaskan dengan gamblang dengan alasan keimanan.

Tidak perlu penjelasan kenapa babi tidak boleh dimakan, kenapa seorang wanita baligh harus menutup aurat, kenapa tidak boleh bersentuhan kepada yang bukan mahram, kenapa harus begini harus begitu… Terkadang kita sendiri yang membuktikan bahwa diri belum siap beriman…. Naudzubillah…

Wallahu a’lam…

Mari hidup dengan syariat. Syariat itu mudah, namun tidak bisa dimudah-mudahkan :)

Sumber:

  1. http://bit.ly/lVooCs
  2. http://bit.ly/kG7Drp
  3. http://bit.ly/m5J3J5
  4. http://bit.ly/agwCWR

6 thoughts on “Nama Suami di Belakang Nama Istri

  1. rasi rahayu says:

    bagaimana dengan ustadz Guntur Bumi yang menambahkan nama istrinya dengan nama dia:
    Puput Melati Al Qurtubi ?

    singkatan Qurtubi : Guntur Bumi

    tidak mungkin seorang ulama tidak mengetahui adanya ayat dalam alquran dan al Hadist tentang hal tersebut.

    • abdullah says:

      Wallahu a’lam bishshawab… Kenapa tidak tanyakan kepada beliau. Saya tidak berani salah salahkan. Saya hanya menyampaikan apa yang para ulama ahli tafsir dan ahli hadis sudah bahas.

      Lagipula Klo guntur bumu bukan Qurtubi, tapi Gurtubi mungkin :) Saya tidak mengetahui, hanya Allah yang mengetahui. Semoga yang salah segera diluruskan oleh Allah…

  2. aulia irham says:

    Ass.wr.wb.

    Al-Quran tidak ada menyebut langsung pelarangan tersebut.
    Al-Hadis juga tidak ada menyebut langsung pelarangan tersebut yang dimaksud. Adapun ayat Al-Quran dan Hadis yang diutarakan diatas pun tidak menyebutkan langsung pelarangan tersebut. Apakah fatwa-fatwa yg dikutip secara terus menerus diatas itu bisa dipertangungjawabkan. Adapun kita umat Islam, cukuplah kita berpegang teguh apa yang ada di Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW yang tertulis secara terang-terangan. Adalah sesuatu yg beresiko tinggi jika sesuatu yg belum jelas ini, selalu dikutip dari situs yg satu ke situs yg lainnya, dari artikel yg satu ke artikel lainnya dan ternyata cuma satu sumber yg blm tentu benar adanya. Apabila anda semua merasa ragu akan hal ini dan beranggapan penting. Ada baiknya layangkan surat ke Majelis Ulama Indonesia yg membahas dan memberi jalan keluarnya. Adapun Ulama besar jebolan pesantren tebu ireng, tokoh negeri ini, cendikiawan muslim, presiden ke-4 negeri ini, melanglang buana menuntut ilmu ke Mesir dan Baghdad namun tentunya akan kita dapati tulisan di koran-koran dan website tertulis Sinta Nuriya Wahid. Belum pernah terdengar berita Beliau melarang istrinya menggunakan nama “wahid” dibelakang nama istri beliau. Andaikan Abdurrahman Wahid, tokoh muslim negeri ini masih hidup, tentu beliau akan berkata “ITU AJA KOK REPOT!”

    Wss.wr.wb

    • abdullah says:

      Wa’alykumsalam wr wb…

      Hehehehe, saya masih sedikit ilmunya. Mohon maaf jika ada yang salah. Jika mas aulia bisa memberikan artikel yang lebih benar dengan dalil yg shahih saya sangat senang :) Tapi selama mas aulia tidak bisa memberikannya maka sa jalankan apa yang sudah jelas dalilnya…

      Hanya mencoba jadi orang yang lebih baik mas… Saling mendoakan aja. Semoga bisa masuk surga bersama-sama. Ga repot kok menjalankan syariat. Yang repot kalau kita selalu saja cari-cari alasan untuk menyangkal syariat. Itu agak melelahkan kadang-kadang. :)

  3. assalamualaikum wr.wb

    Allah memberikan kita akal fikiran tak ada yang tak boleh dipertanyakan, Ayat Allah itu saling menerangkan, ada pula hadist dan ulama. jadi fahami yang sebenarnya jangan sampai orang malah SALAH FAHAM DENGAN NIAT BAIK ANDA.

    masalah nama apa yang menjadi dasar pemikiran anda? ” [HR. Muslim dalam al-Hajj (3327)”. maknai dulu yang dimaksudkan itu, tanya dengan ulama. itu persepsi anda tentang nama atau anggapan orang tentang nama belakang atau apa?

    islam bukan agama bodoh yang MALAS MIKIR, yang hanya mendahulukan logika tapi Islam itu agama yang cerdas. hal kecil yang seperti anda sebutkan diatas itu ada jawaban di alqur’an, ada penelitiannya seperti kenapa tidak boleh makan babi, kenapa balig harus menutup aurat, kenapa begini dan kenapa begitu. COBA LEBIH TELITI. semoga kita menjadi orang yang ilmiah cerdas dan berilmu.

    wassalam

    • abdullah says:

      Alaykumsalam wr wb,

      Ilmu saya masih mengutip, Mbak Mardianti… Masih bodoh. Makanya jika mbak merasa tidak puas dengan apa yang saya tulis, silakan ke 4 sumber yang saya cantumkan dibaca. Yang nulis insyAllah mufti mufti Arab Saudi kok. Hehehehe… Saya hanya menyampaikan cara gampangnya-menyingkat agar yang malas baca dapat intinya, biar yg masih belajar tidak pusing membaca istilah istilah yang agak asing.

      Begitu mbak… Wallahu a’lam. :)

      Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: