Apakah Allah Akan Menerima Amal-amalku?

Apakah Allah Akan Menerima Amal-amalku?

Para sahabat Rasul adalah orang yang selalu mempertanyakan hal ini setelah mereka melakukan suatu amal. Dirimu pernah deprresi? Maka para sahabat layaknya mereka yang depresi karena ketakutan amal yang mereka lakukan tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Padahal para sahabat adalah mereka yang selalu menyempurnakan dan bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu. Antusias dan selalu ingin jadi orang yang paling depan dalam beramal. Tilawahnya tidak sembarang tilawah, shalat-shalat malam-nya pun tidak asal shalat malam, mereka berinfaq tidak pernah segan menghabiskan seluruh harta untuk jihad fi sabilillah. Jangan pernah bertanya tentang kesantunan mereka, karena mereka belajar dari orang yang paling santun yang pernah ada, Rasulullah saw.

Allah mengabadikan para sahabat tentang hal di atas dalam salah satu firmanNYA,

Dan orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Qs. Al-Mu’minun:60)

Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut; apakah mereka itu orang yang mencuri, berzina, minum khamr, kemudian mereka takut kepada Allah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar. Mereka adalah orang yang shalat, berpuasa, bersedekah, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.” (Hr. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Tiba-tiba tercenung saat membaca hadis ini. Tercenung melihat diri yang masih saja sibuk dengan memberbaiki kesalahan, tidak seperti mereka yang sibuk membangun kebaikan. Tiba-tiba tergugu menyerapi hadis ini. Tergugu melihat diri yang sangat jarang menyesali diri saat melakukan kesalahan, tapi malah mengulang-ngulangnya dengan istiqamah. Tiba-tiba hati tak merasa nyaman mendalami hadis ini. Merasa tak nyaman karena tahu diri yang ibadahnya kurang-banyak dosa-jarang bersyukur-dan malas menuntut ilmu ini masih sangat santai dalam hidup; beramal sedikit lalu puas, saat maksiat kemudian tinggal tobat saja-maksiat lagi tinggal tobat lagi, dan saat menerima rezeki lupa bersyukur terus.

Jika hidup seperti main DOTA, saat menjelang kematian kita tahu indikatornya sehingga kita siap-siap untuk kembali ke markas, mungkin hidup akan tenang. Atau seperti main Mario Bros yang punya nyawa sampai tiga, jika mati maka kita bisa mengulang kehidupan kembali dan menyelesaikan misi mulia hidup untuk menyelamatkan putri, mungkin hidup akan mudah. Sayang tidak seperti itu. Hidup hanya sekali, jika akhirnya buruk maka akan lebih buruk setelahnya, dan jika akhirnya baik maka akan lebih baik setelahnya.

Dan prinsip itu ada pada para sahabat. Kapan kita bisa seperti mereka? JANGAN TANYA KAPAN?! Tapi bergeraklah sekarang. Ramadlan sebentar lagi pergi. Jangan pernah buat akhir Ramadlan jadi tanpa arti. Bermanja-manjalah dengannya sampai akhirnya jadi nyata. Berintimlah kalian sampai dia berkata cukup dan pergi untuk sementara atau selamanya. Karena kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita bertemu lagi atau tidak…

Huft… Wallahu a’lam.

Yang pasti hatiku kini jadi tak keruan. Mereka yang jelas-jelas shalih itu takut amalnya tidak diterima, aplagi aku?

Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’ fu ‘anni…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: