Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Mauut V; 4 Kali Takbir

Tidak tujuh kali takbir, tapi empat kali. Bukan tentang shalat idul fitri, namun Allah ingin hari ‘bonus’ Ramadlan tahun ini harus benar-benar mengingat tentang kematian. Yup! Empat kali takbir untuk shalat jenazah. Subuh tadi ada warga Tamansari Persada ada yang meninggal. Kali ketiga Allah menegurku bahwa matiku dekat. Jangan main-main lagi, Reza… 

Diriwayatkan dari Kumail bin Yizad, bahwa ia keluar dengan Ali Abi Thalib radhiyallahu`anhu (ra.). Dalam perjalanan itu Ali menoleh ke kuburan lalu berkata, “Wahai penghuni tempat yang menyeramkan, wahai penghuni tempat penuh bala`, bagaimana kabar kalian saat ini? Maukah kalian kuberitahu kabar dari kami: harta-harta kalian telah dibagi-bagi, anak-anak kalian telah menjadi yatim, dan istri kalian telah dinikahi oleh orang lain. Kini, maukah kalian memberi tahu tentang kabar yang kalian miliki?”

Kemudian Ali menoleh pada Kumail dan berkata, “Wahai Kumail, seandainya mereka diizinkan menjawab mereka akan mengatakan, ‘Sebaik-baik bekal adalah taqwa’ 

Ali menangis. Lantas, kembali berkata, “Wahai Kumail, kuburan itu adalah kotak amal, dan di kala kematian, kabar dari isi kotak amal itu akan menghampirimu.” (Al Hasan bin Bisyr Al-Aamidiy, Kanzul `Ummaal, Juz III, hal.697, Maktabah Syamilah).

Sebaik-baik bekal adalah taqwa… Apakah kalian tahu tema Ramadlan tahun ini? Teman Ramadlan setiap tahun selalu sama, temanya selalu tentang TAQWA. Hadiah yang dibawa oleh Ramadlan dari awal hari sampai akhir, menunggu penghujungnya datang supaya terakumulasi besar untukmu. Bekal yang seharusnya diberikan Ramadlan saat takbir-takbir berkumandang, saat dia melambaikan tangan, saat dia tidak menjawab pertanyaan ‘apakah kau akan datang tahun depan?’.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu berTAQWA” (QS. Al Baqarah: 183)

Perjalanan di dunia itu sebentar. Namun perjalanan setelah kematian itu yang sangat panjang. Maka jangan pernah kehabisan bekal dan bekal yang tidak pernah habis, abadi, dan yang akan menemanimu nanti adalah taqwa. Entahlah… Hati sudah membatu, hingga sudah tidak bergetar takut saat mendapat cerita-cerita kematian. Hati sudah keras mengalahkan karang hingga tidak menciut saat ditakut-takuti dengan kisah-kisah para ahli kubur.

Diceritakan dari Abu Bakar Al-Isma`ili dengan sanandnya dari Usman bin Affan, bahwa apabila mendengar cerita neraka, ia tidak menangis. Bila mendengar cerita kiamat, ia tidak menangis. Namun, apabila mendengar cerita kubur, ia menangis.

“Mengapa demikian, wahai Amirul Mukminin,” tanya seseorang kepada beliau. Usman menjawab, “Apabila aku berada di neraka, aku tinggal bersama orang lain, pada hari kiamat aku bersama orang lain, namun bila aku berada di kubur, aku hanya seorang diri.” (Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Al-`Ushfuri, Syarh Al-Mawaa`idz Al-`Ushfuuriyyah, Jakarta: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, hal. 28)

Wallahu a’lam… Kullu nafsin dzaa iqatul mauut, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Semoga saat-saat kematian itu datang menjemput, kita ada seorang yang sudah siap dengan ransel penuh ketaqwaan. Kita adalah orang yang tersenyum menyambutnya dengan penuh suka cita. Kita adalah yang siap untuk berjalan jauh bersamanya. Tidak takut kelaparan, tidak takut kehausan, namun ingin cepat-cepat sampai ke ujung perjalanan dan bertemu sang kekasih….

Kekasih sejati, Allah tabaraka wa ta’ala…

Tapi pertanyaannya, apakah kau rindu untuk bertemu denganNYA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: