“What?! Memuji sama dengan memenggal leher?!”

Ibnu Athaillah berpesan, “Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan tutup yang diberikan Allah untuk (menutupi aib)-mu. Maka, yang wajib dipuji adalah Dzat yang menutupi (aib)-mu.”

Siapa yang tidak senang dipuji? “Anda hebat”, “Anda berbakat”, “Anda kuat”, “Anda pintar”, segala macam jenis kata-kata manis yang selalu jadi idaman setiap manusia dunia yang menunjukkan bahwa apa yang telah kita usahakan punya arti, ada penghargaan, dan tidak sia-sia. Namun manusia adalah tempatnya salah dan aib. Maka apabila ada seseorang yang memujimu, itu berarti bahwa Allah menutupi aib-aibmu dengan sebaik-baik tutupan; tutupan pujian. Menampakkan kebaikan, bukan aib yang kita sembunyikan yang jika Allah mau maka tampaklah semuanya. Yang tampak adalah dirimu yang cantik luar biasa bukan si buruk rupa. Karunia besar dari Allah pada kita semua, buka untuk disombongkan tapi untuk disyukuri.

Tidak pantas kita sombong, pujian hanya sebuah belas kasihan Allah kepada hamba hina tak punya apa-apa, tak berdaya jika tak diberikan kekuatan, tidak berakal jika tidak diberikan pemahaman, tidak kaya raya jika tak dititipi harta benda sementara. Terlena dengan pujian itu manusiawi, namun kemanusiaan harus selalu berkait erat dengan ketauhidan. Maka dari itu Rasulullah menegur salah seorang sahabat yang memuji sahabat lainnya secara langsung;

“Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)
Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

What?! Memuji sama dengan memenggal leher?!

Tidak bisa diartikan secara leterlek seperti itu. Maka Rasulullah saw. sang teladan memberikan contoh bagaimana cara memuji seseorang agar yang dipuji tidak meninggalkan ketauhidannya dan melenceng karena mabuk pujian.

Pertama, Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.:

اللهم فقّهْه في الدين وعلّمْه التأويل
“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair).

Begitu pula, di saat Nabi Saw.  melihat ketekunan Abu Hurairah ra. dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. dan menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Wallahu a’lam…

Aku senang dipuji, kamu juga senang dipuji, kita semua sangat senang dipuji. Maka dari itu, saat orang datang kepadamu dengan begitu banyak pujian maka ingatlah kepada aib-aib yang Allah telah tutupi sehingga kau terlena akan pujiannya. Dan Rasulullah mengajarkan sebuah doa;

“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku). Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (H.R Bukhari)

Sumber inspirasi:

  1. http://fauzi-akh.abatasa.com/post/kategori/1572/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong
  2. http://humairamarby.wordpress.com/2009/09/15/fenomena-pujian/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: