Bahkan Melebihi Jihad Fii Sabilillah

Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah,…”

Sekarang kita berada di penghujung Dzulqa’dah. Nah, mumpung belum nyampe ke Dzulhijjah, baik jika kita ketahui lebih lagi bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat dalam menyambut bulan ini.

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757]

Bahkan di surah Al Fajr pun disebutkan bahwa Allah bersumpah dengan 10 hari awal bulan Dzulhijjah untuk menyatakan bahwa hari-hari ini adalah hari-hari yang utama,

“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2)

Lalu apa yang harus kita lakukan di 10 hari awal bulan Dzulhijjah? Terkadang kita kecolongan di awal-awal ini, mengira keutamaan hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu puasa arafah. Sedang luput sudah keutamaan-keutamaan tanggal satu sampai tanggal delapannya. Konteks hadis di atas jelas menyatakan; “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai…”, ini mengeneralisir bahwa semua amal sholeh baik itu shaum, tilawah, shadaqah, shalat-shalat sunnah itu sangat utama dilakukan pada hari-hari awal bulan Dzulhijjah. Mari kita simak pendapat para ulama:

  • Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”[1]
  • Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.[2]
  • Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.”[3] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[4]

Bahkan Rasulullah saw. berpuasa selama sembilan hari penuh pada hari-hari ini. Delapan hari dengan niat puasa sunnah, dan pada tanggal 9 Dzulhijjah-nya dengan niat puasa arafah.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” [HR. Abu Daud no. 2437]

Nah, bagi kita-kita yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[5] Keutamaan puasa arafah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.[6]

Pernyataan ‘…setahun akan datang.‘ – pengampunan dosa setahun yang akan datang adalah bahwa mereka yang melaksanakan puasa arafah akan diberikan taufiq untuk tidak melakukan maksiat. Taufiq berupa hidayah untuk tidak melakukan maksiat, dihalang-halangi untuk maksiat, maupun sulitnya melakukan kemaksiatan tersebut.

Bagi yang sudah bosan maksiat dan sulit melepaskan kebiasaan harus puasa arafah nih. Berpuasa dengan ikhlas karena Allah, mengharap-harap belas kasihan untuk diampuni seluruh kesalahan, bertaubat untuk tidak melakukan maksiat lagi, dan bertekad untuk menjadi hamba yang lebih baik. Apalagi yang diharapkan kita semua selain surga. Maka yang masih sadar bernapas bersegeralah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Wallahu a’lam…

Mari hidupkan syariat. Syariat itu mudah namun tidak untuk dimudah-mudahkan :)

[1] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456.

[2] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 457 dan 461.

[3] Idem

[4] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458.

[5] Lihat Fathul Bari, 6/286.

[6] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam.

Sumber:

http://bit.ly/DeWot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: