Tadi Pagi Aku Bertemu Seorang Bocah

Tadi pagi aku bertemu seorang bocah namanya aneh sekali. Namanya si Polos-Cengeng yang selalu menangis meratapi kekurangannya. Yang tidak berani menjadi tua karena dia tahu banyak konsekuensi yang harus dia hadapi saat ‘tua’ jadi nama tengahnya nanti. Menangis jadi temannya, sendiri menjadi sahabatnya, berdoa dan memohon jadi kegiatan rutinnya. Dia tidak berharap kepada manusia yang jelas-jelas tidak punya daya untuk apa yang dia pinta. Dia hanya dekat dengan Allah azza wa jalla. Dekat-dekat karena ada maunya, baik-baik karena ingin meminta, merayu-rayu karena tak punya apa-apa.

Tapi, dia cepat sekali pergi.

Untungnya siang tadi aku bertemu dengan seorang remaja, dia bilang padaku namanya si Polos-Tak-Tahu-Apa-apa. Nama macam apa pula ini, tak masalah lah yang penting siang ini aku tidak sendiri. Dia menceritakan dirinya. Dia haus mencari tahu, dia lapar karena tidak tahu, dia pun tidak malu saat ejekan datang karena dia tidak mengerti, dia tidak takut coba-coba semua hal untuk bisa tahu suatu arti. Semangat membara didihkan darahnya, gelembungnya meletup lalu menguar, mencipratkan kehangatan kepada setiap orang yang berada di dekatnya. Selalu nyaman bersama dengannya.

Namun dia pun tak bisa lama-lama. Dia bilang akan kembali jika aku memanggilnya. Bagaimana bisa, aku lupa minta nomor handphone-nya.

Lalu tiba-tiba seseorang menyapaku hangat sore ini. Senyumnya teduh. Oh, aku akan cepat akrab dengannya, batinku. Dia mengaku sebagai – aku tidak percaya itu namanya – si Polos-Cinta-Mengabdi. Dia bilang padaku dengan bangga bahwa dia bangun awal untuk bertemu, dia berlari agar tidak didahului, dia bersenandung saat jenuh berlari, dia melompat setinggi-tinggi kemampuannya untuk jadi sukarelawan nomor satu. Dakwah jiwanya, berjuang mengalir dalam darahnya, dan gelar ‘syahid’ cita-cita terahirnya.

Seperti kataku, aku mulai akrab dengannya. Namun dia bilang harus pergi. Lagi-lagi pergi. Dan lagi-lagi aku lupa menanyakan bagaimana kopi darat lagi. Huft…

Dan malam ini aku sudah rindu dengan mereka.

Okelah, besok aku masih punya waktu untuk bertemu. Semoga.

Saat bertemu aku tak akan lupa untuk mencatat nomor selularnya, kalau perlu akun FB atau twitternya pun aku minta, mungkin pin bbm nya juga.

Tapi apakah besok aku bisa bertemu? Apakah mereka masih mau bertemu denganku?

3 thoughts on “Tadi Pagi Aku Bertemu Seorang Bocah

  1. kok tulisannya bagus ya? kakak yg satu emang pandai merangkai kata :)

  2. mitha says:

    Lama2 aku baca tulisannya ini kaya baca hasil psikotestnya om reza…hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: