Rindu Ramadlan

Hari ini tanggal 1 Rajab 1433 Hijriah. Semua orang berdoa dengan doa yang sudah sangat terkenal itu, walau memang bukan doa dari hadis shahih mana pun, dan tidak dipungkiri bahwa perbedaan pendapat tentang berdoa dengan doa ini sangatlah banyak, doa tetaplah sebuah doa.

Allahumma Baariklanaa Fii Rajaba wa Sya’baana wa Ballighnaa Ramadhaan

Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikan kami pada bulan Ramadlan

Apalah yang dilakukan seorang yang merindu selain berharap-harap untuk segera bertemu? Mungkin hal ini yang disampaikan oleh doa ini. Walau hanya sebuah doa, sebaiknya tidak terlalu dikhususkan diamalkan sampai-sampai dibaca setiap saat pada bulan Rajab dan nanti saat Sya’ban datang. Intinya jangan melakukan pengkhususan terhadap doa ini. Karena memang tidak dianjurkan mengamalkan doa-doa yang berasal dari hadis yang lemah, sebaik apapun isinya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Mari kita lihat bagaimana orang-orang shalih terdahulu mengungkapkan kerinduannya kepada Ramadlan. Mereka para shalih terdahulu mempersiapkan dan berdoa untuk menyambut Ramadlan tidak hanya pada saat bulan Rajab datang, sebagian ulama salaf mengatakan,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullah mengatakan,

شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع

Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadlan adalah bulan untuk memanen.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 130)

Sebagian ulama yang lain mengatakan,

السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadlan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 130)

Sudah bulan Rajab, Saudaraku… Saatnya menanam. Jika kau rindu Ramadlan, maka persiapkan menyambutnya dengan persiapan matang. Apalah yang dilakukan seorang yang merindu selain mempersiapkan segala sesuatu agar terlihat sempurna saat menyambut yang dirindukan. Bersih-bersih diri dengan bertaubat dari sekarang, olahraga hati dengan menambah-nambah ibadah sunnah yang disyariatkan, dan menambah gizi jiwa dengan mulai rajin mencari ilmu dan menghadiri majelis ta’lim.

Apalah yang dilakukan seorang merindu selain berusaha tidak melakukan kesalahan apapun saat persiapan menyambut yang dirindukan. Tidak mengamalkan shaum-shaum atau shalat-shalat yang tidak ada dalilnya seperti menjalankan shaum bulan Rajab atau menjalankan shalat khusus malam ke-27 Rajab yang tidak ada tuntunannya.

Islam itu mudah. Terkadang kita yang suka menambah-nambah. Konsepnya sederhana; Jika Rasulullah saw. dan para sahabat tidak mencontohkan, maka tidak perlu dan jangan dilakukan. Daripada apa yang kita kira ibadah malah jadi berbalik menjadi satu hitungan dosa bagi kita.

Kita ngikut apa yang Rasulullah saw. katakan aja,

Barangsiapa yang BERAMAL BUKAN di atas PETUNJUK kami [RASULULLAH saw.] maka amalan tersebut TERTOLAK. (Mutafaqun ‘alaih)

Selamat menanam para perindu. Tanam yang banyak maka kau akan memanennya dengan hasil yang banyak. Tanam yang banyak, karena jika ada yang rusak maka ada penggantinya. Tanam yang banyak, karena pengorbanan selalu berbanding lurus dengan penghargaan di Mata Allah azza wa jalla.

Lelahkah? PASTI LELAH! Maka persiapkan dari sekarang :)

Wallahu a’lam bish shawaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: