Empati

Ada aku yang heran dengan orang-orang yang begitu mengusik urusanku. Aku mau shalat kapan itu terserah aku, aku mau tidur kapan saja itu urusanku, mengkritik ini, mengkritik itu. Menyindir-nyindir seakan-akan aku orang yang paling buruk di dunia padahal aku pasti shalat, mau kapan shalatnya ya semauku lah. Dan aku paling benci dibangunkan shalat subuh. Aku yang tahu bagaimana keadaan tubuhku. Kenapa dia yang sibuk?! Kurang kerjaan!

Lalu ada aku yang lain yang sangat heran dengan orang yang yang hanya untuk shalat lima waktu saja malasnya minta ampun. Aku tidak akan mencari-cari kesalahan dia apa untuk mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling harus shalat karena dosanya banyak. Aku hanya heran, kenapa dia yang begitu beruntung dengan rejeki berlimpah, semua hal yang diinginkan bisa terpenuhi, cita-cita tercapai satu-satu walau pelan-pelan namun dia tidak bersyukur. Hanya untuk setiap ijin Allah untuk menghirup udara dia tidak mau bersyukur?! Aku menyindir bukan untuk menjatuhkan,tapi ingin mengingatkan. Aku nekat mengusik karena aku sayang bukan karena aku ingin iseng-iseng membangunkan.

Ada aku lagi yang heran dengan mereka yang menghadapi hidup dengan begitu tegang. Hidup itu untuk dinikmati. Tertawalah pada dunia, karena dunia memang untuk dinikmati. Hidup hanya satu kali, kenapa harus berpikir yang susah-susah. Orang yang susah, berarti memang sudah takdirnya hidupnya susah. Orang yang senang, berarti hidupnya sudah ditakdirkan hidupnya senang. Enjoy your life my man… Hadapi yang ada di depanmu, urusi masalah yang kau punya, tapi jangan lupa senyum.

Ada aku yang lain yang heran dengan tawa orang-orang kepada mereka yang tertimpa musibah. Mereka tenang tidak terusik jika ada tetangganya kelaparan. Mereka santai bersenang-senang sedang ada orang yang kekurangan. Mereka tertawa di saat yang sama dengan mereka yang menangis kesakitan; fisik dan hatinya. Sadarkah? Tidak! Aku tahu mereka tidak sadar. Dunia melenakan untuk sadar bahwa hidup itu tidak sendirian, bahwa semua yang ada pada diri kita adalah titipan. Titipan untuk sesama, bukan untuk disimpan untuk diri semata.

Aku adalah apa yang aku lihat, aku rasakan, aku pikirkan, dan aku lakukan. Aku bisa merasakan hidup orang lain dengan hanya menajamkan empati. Menempatkan diri dengan gesture yang tepat, menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang akurat, melakukan amal dengan cara yang diterima namun tidak melewati batas norma agama dan masyarakat. Aku bisa jadi kau, dia, mereka dengan satu empati saja. Empati bukan sesuatu agar bisa selalu diterima oleh orang banyak. Tapi empati adalah bagaimana merasakan atmosfer sesama agar kita tahu apakah kita harus maju atau mundur, berbicara atau diam saja, atau melakukan atau tidak melakukan dengan dasar ilmu agama.

Kenapa berdasarkan ilmu agama? Jawabannya sederhana; Biar bisa jadi pahala dan menghindarkan diri dari perbuatan syubhat apalagi dosa.

Wallahu a’lam…

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: