Solusi Semua Masalah

Sore ini seorang adik kelas menghubungi lewat chat. Problems? Off course he has really big problem and I felt it from the beginning of his words…

Dia bilang, “I’m done! Everything is done now…

“Sebentar lagi  mungkin aku sudah tidak punya Allah lagi.”

Ga ada arahan, ga ada tujuan.”

“Selalu cobaan berat.. Kenapa begini?!”

Bicara tentang semua teman seperjuangan yang dulu dengan misi sama sudah kehilangan arah. “Ternyata mereka semua tidak ada yg tersisa, gugur di jalan. Dan aku mungkin tinggal nunggu waktu.”

“Aku selalu pesimis karena panutanku semuanya hilang dariku satu-satu. Kak Yandri, Pak Tides, Mas Reza, Kak Ramdani ESQ…”

“Semua ga ada di sini….”

“Aku ga takut hidup sendiri… Aku cuma takut kehilangan arah karena arahan yang ku dapat selama ini bukan dari siapa-siapa, tapi dari kalian…”

“Sekarang… Tujuan terasa hambar…”

“Sering bertanya banyak sama Allah, dan tanpa ada jawaban yang berarti.”

“Yang aku tau sekarang… Jawaban saat ini; tidak ada kalian yg bimbing aku kak…”

“Yang ngawasin aku. Ga ada yang sayang aku seperti dulu…”

Menutup semua pembicaraan di chatting ini secara sepihak lalu mengucap salam tanpa sempat aku memberikan tanggap atas semua yang sudah dia tulis. Aku menjawab setiap dia meng-enter setiap kalimat yang dia tulis. Aku ingin bilang dia salah berpikir. Tapi apa dayaku untuk menyampaikan dengan intonasi semua penekanan yang biasa aku lakukan kepadanya karena hanya bisa mengungkap semua lewat tulisan chat saja. Rasanya desperate saat dia menutup chat tanpa sempatku untuk memberikan kata-kata yang -aku berharap- bisa punya arti buatnya.

“Kamu sekarang merasa punya banyak masalah kan?”

“Merasa hidup tidak tentu arah kan?”

“Ada satu solusi dari Allah… Mau tahu?”

“Ada di salah satu surah…”

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Al-Thalaq: 4)

“Entah kapan kamu baca chat ini… Tapi benar, kak peduli. Biar Allah saja yg bimbing. Terkadang kita berteriak kepada Allah untuk tahu kenapa semua terjadi. Tapi tidak perlu teriak untuk didengar Allah.”

“Harusnya kita bertanya kepada diri kita, apa yg telah kita berikan kepada Allah. Allah sungguh tidak butuh ketaqwaan kita. Tapi ketaqwaan lah yg menjadi bekal kita yg paling penting untuk menjalani semuanya.”

“Walaykumsalm warahmatullahi wabarakatuh…”

Lalu aku juga ikut diam, dan berhenti untuk juga ikut berpikir… Sungguh Allah azza wa jalla ingin aku bertemu dengannya enam tahun yang lalu untuk hari ini. Enam tahun yang lalu untuk hari ini… Untuk belajar lagi bagaimana melihat ketaqwaanku.

Belajar lagi bagaimana melihat ketaqwaanku…

Saat masalah datang tanpa solusi. Saat solusi datang namun tidak boleh dijalani. Saat itulah kau boleh mempertanyakan apakah ketaqwaannmu sudah benar?

Ternyata aku belum benar-benar taqwa padaNYA…

Wallahu a’lam bish shawaab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: