MASJID

Satu hal yang menjadi penarik untuk datang ke masjid itu adalah karena ingin mengamati orang-orang yang datang ke masjid. Apalagi di waktu-waktu yang jauh setelah shalat pertama di lakukan di masjid itu. Selonjor kaki, bersender di dinding yang paling belakang, berpura-pura istirahat, tapi mata tetap awas untuk menyadap. Menyadap semua tingkah laku, desiran-desiran ucapan doa lirih yang menjadi terdengar telinga karena kesungguhan dalam meminta, dan lantunan-lantunan ayat-ayat suci dengan berbagai macam nada.

Mengamati dan mendapati mereka datang ke sini dengan kesungguhan hati. Di salah satu pojok ada yang asyik dengan tilawah Al Quran-nya, bukan masalah merdu atau tidaknya di telinga, namun yang mengagumkan buat apa dia tilawah di waktu seperti ini? Lalu sekelompok remaja datang dengan ribut, berdebat siapa yang jadi imam setelah salah satu dari mereka melakukan iqamah, saling dorong-dorong, sampai yang mempunyai jenggot lebih yang dipilih dengan paksa karena semua bersekongkol sepakat memilih dia. Entahlah, padahal tidak ada korelasi jenggot dengan pantas tidaknya orang menjadi imam shalat. Hanya tersenyum, semoga mereka orang-orang yang selalu ingat untuk shalat, walau waktunya agak mepet dengan waktu shalat berikutnya.

Di pojok yang lain, seorang tua tidak lepas dari tasbihnya. Berkomat-kamit tanpa menghiraukan sekitar. Tanpa menggrubris keributan, tanpa jeda; asyik berdua saja dengan Sang Maha Sayang, namun buat apa berdzikir lama-lama di waktu seperti ini? Di belakang orang tua, ada seorang yang baru selesai dari shalatnya. Shalat dua rakaat; mungkin shalat tahiyatul masjid. Kepalanya langsung layu ke dinding di sampingnya. Mengantuk mungkin, namun tak lama tubuhnya mengguncang kecil-kecil. Oh, anugrah Allah karena bisa melihat detil-detil kecil, karena mengetahui bahwa dia sedang menangis tanpa suara. Lalu tangannya langsung ke atas memanjat, kepalanya menengadah searah tangannya memohon. Aku tak cukup dekat untuk mencuri dengar yang dia pinta. Namun apa pun itu aku berdoa agar doanya dikabulkan, agar masalahnya diangkat, agar dimudahkan segala sesuatu yang dia butuhkan.

Memandang luas keutuhan gambar yang ada di hadapan, lalu mendapati mereka datang ke sini untuk berbicara langsung dengan Sang Maha Kaya untuk mendapatkan kemudahan. Mendapati mereka datang ke sini karena ingin mencari ketenangan dari Sang Maha Rahman karena tidak tahu kapan akan menghadap. Mendapati mereka datang kesini mungkin walau sekedar untuk menjalankan kewajiban tapi begitulah tugas seorang yang menghamba kepada Azza Wa Jalla. Dan mendapati mereka yang sekedar ingin berduaan saja dengan Sang Maha Cinta dengan membaca surat-surat cinta yang dibawa oleh Jibril as. kepada RasulNYA shalallahu ‘alaihi wassalam.

Suatu kebutuhan melihat wajah-wajah orang-orang ini. Wajah-wajah yang saat dilihat membuat motivasi untuk bertaqwa membuncah kuat, wajah-wajah yang jika dipandang menjadikan iman naik pada level super saiya, wajah-wajah yang saat diamati bisa membuatmu ingin melakukan semua kebaikan. Tidak dimana-mana, tempatnya ya di masjid saja. Inilah hal yang membuat masjid selalu menarik. Berlama-lama di dalamnya hanya mendatangkan kebaikan, insyaAllah…

Kembali ke masa lalu;

Mushalla Nurul Iman (9 tahun); tempat pertama kali belajar mengaji, pertama kali shalat tarawih, pertama kali mengahapal Al Quran (Surah Al Adiyat) dari Qurannya langsung, pertama kali mendapatkan masalah besar, dan pertama kali menemukan Allah disana.

Masjid At Taqwa (3 tahun); tempat pertama kali ikut halaqah, tempat pertama kali menangisi dosa besar pertama, tempat pertama kali belajar untuk takut kepada Allah, dan tempat pertama merasakan ukhuwah.

Masjid Syamsul ‘Ulum (5 tahun); tempat pertama kali belajar jadi muslim yang baik, tempat pertama kali untuk mengkaji ilmu-ilmu syar’i, tempat pertama kali membuat diri jadi pemberani melakukan apa pun, dan menjadi rumah kedua di hati. Bertemu orang-orang hebat yang menghebatkan orang lain disana.

Masjid Al Ikhlas (sekarang 4 tahun); entah dari mana masalah besar muncul, tapi Allah sepertinya ingin hambanya ikhlas menerima semuanya. Dan menjadi ikhlas ternyata sulit. Benarlah kenapa hanya para mukhlishin saja yang tidak mampu digoda setan dan masuk ke surga Allah. Belajar-belajar-belajar sampai ajal menjemput.

Entahlah. Tapi karena masjidlah semuanya jadi baik-baik saja. Pendapat pribadi, aku tak tahu pendapatmu apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: