Kemarin

Dia berkata, “Kenapa kau tetap berada disini?”

Menatapnya bingung. Siapa dia? Seolah-olah mengenal, menatap lurus tepat ke mata, menatap dengan pandangan iba, mengucapkan kata-kata itu seakan-akan mengerti apa yang seharusnya diri lakukan. Dan di mana ini? Melepas mata dari matanya, lalu memandang sekeliling. Tak ada ide. Tak tahu dimana.

Dimana ini? Otak berkata, namun mulut tidak mampu berkata. Memaksa namun tetap tak bisa. Tak ada siapa-siapa kecuali dia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua hal perlu dikeluarkan dalam bentuk kata-kata. Kenapa Kau masih di sini?”

Pertanyaan yang sama. Jawaban tak ada. Mulut pun tak ada guna karena pun tak punya jawabnya.

“Jangan terus tinggal disini, Kawan… Jangan buang waktumu percuma. Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali. Jangan kembali, tapi berjalan majulah. Jangan menengok, hadapi yang ada di depanmu.”

Hanya bisa menelengkan kepala, mengira-ngira maksudnya apa. Berpikir-pikir siapa dia, pernahkah bertemu dengannya sebelumnya. Bertanya-tanya kenapa di sini menghadapinya. Mau bergerak maju mendekat kepadanya, namun kakiku kaku. Menunduk, memberi perintah kepada keduanya agar melangkah tapi sia-sia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua harus dilihat dari dekat. Terlalu dekat melihat terkadang hanya membuatmu tidak bisa melihat semua gambaran besar tentang kenapa sesuatu terjadi…”

Seakan dapat membaca pikiran, “Tidak melihat dari dekat bukan berarti kau diam di tempat, Kawan. Jangan hanya diam di sini. Hidupmu terjatah dan tak bisa diambil kembali. Diam di tempat sama dengan tidak beramal apapun. Diam di tempat berarti menyiakan anugerah waktu yang diberikan. Diam di tempat berarti mati. Jangan mati sekarang. Kau tidak ingan melihat wajahNYA? DIA yang kau bilang selalu kau cintai. DIA yang selalu kau bilang selalu dirindukan. DIA yang ingin kau lihat wajahNYA di surga nanti.”

Menyimak.

“Kau tidak ingat kata-kata Ibnul Qayyim, Kawan? Beliau rahimallah berkata, ‘“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

“Apakah kau sudah lupa dengan apa yang kau telah baca bahwa Iman Syafi’i berkata, ‘“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”‘. Jangan sampai Kau menghunus pedangmu sendiri lalu menebas kepalamu sendiri. Mengakhiri semua sebelum waktunya. Mati saat masih bernafas. Jangan begitu, Kawan…”

Mendengarkan. Tidak lagi berontak.

“Jangan takut. Aku tahu Kau takut. Semua orang takut. Tapi jangan takut. Semua orang berbuat salah, dan semua orang tidak seharusnya tenggelam dalam kesalahan yang dia perbuat. Manusia lahir dalam kesendirian, tapi Allah azza wa jalla menjamin segalanya untuknya. Tidak usah takut bahwa Kau akan sendirian di dunia, karena Allah selalu ada. DIA melihatmu bermaksiat, tapi dia pun menunggumu untuk menangisi kesalahanmu, memohon ampun terhadap kesalahan itu, dan DIA pasti akan mengampuni.”

“Kawan, aku ingatkan kembali banyak hal yang pernah Kau baca dan mungkin Kau sudah lupa…”

“Jadilah mereka yang menangisi waktu yang terlewat namun tak manfaat seperti yang diceritakan oleh Basyr bin Al Harits, ‘“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashroh dan ia sedang menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.”

“Dan Janganlah menjadi mereka yang menyesal yang diceritakan oleh banyak ayat dalam Al Quran,

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”” (QS. As Sajdah: 12).”

Aku tertunduk.

“Mereka menyesal dan tidak bisa kembali lagi. Kau mengerti apa yang aku maksud kan?”

Tidak menatap menatapnya, namun hanya bisa mengangguk. Mengerti kenapa berdiri sendiri menghadapnya. Mengerti kenapa tak bisa berkata dan bergerak mendekatinya. KARENA TIDAK SEHARUSNYA DISINI.

“Kau tidak hanya menengok kali ini. Kau membalikkan seluruh badanmu kemari. Kau tidak seharusnya di sini. Tidak boleh. Sama sekali tidak boleh. Aku tidak rela jika kau ingin kembali.” Matanya berkaca-kaca. Dia tidak suka. Tapi hati mau tetap disini. Terlalu banyak kesakitan di depan sana. Dan aku sendirian. Buat apa aku berjalan namun tak ada yang menemani, buat apa aku mencari sedang tak ada lagi hasrat untuk mendaki. Aku pejuang kalah. Aku gagal untuk semua hal. Aku sudah tidak punya alasan untuk berjuang. Aku kosong, aku melompong. Aku mau diam. Aku hanya mau diam.

Aku menangis. Tak bersuara.

“Jangan bersedih, Kawan… Kau tidak sendirian. Kan ada Allah. Itu selalu jadi pegangan hidupmu. Lalu kemana semangat itu lagi? Jangan bersedih, Kawan. Aku tahu manusia mengecewakan. Aku tahu sedih kita tak bisa dibagi kepada mereka. Mereka punya hidup mereka dan membebani mereka dengan kehidupan kita itu kesalahan. Aku tahu rasamu. Ada Allah yang selalu bersamamu.”

Aku terisak. Tak bersuara.

“Hei, jangan menangis! Jangan menangis karena kehidupan duniamu tidak bahagia. Tapi menangislah jika Kau harus berakhir di neraka jahannam karena Kau tidak memperbaiki kesalahanmu. Tidak mau menghadapi konsekuensi atas kesalahan-kesalahanmu. Semuanya akan baik-baik saja, Kawan. Ingat, ADA ALLAH…”

Aku mengasiani diri. Aku takut dengan hal yang tidak layak ditakuti. Menatap wajahnya lagi. Mata bertemu dengan mata.

“Nah, itu lebih baik.” Nada suara lega.

” Sana-sana pergi. Aku tidak mau lagi melihatmu datang kemari. Sekedar menengok itu tidak mengapa. Menengok untuk belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama itu harus. Tapi menengok untuk berbalik dan diam tenggelam dalam kesalahanmu itu dilarang. Ingat itu. Hidupmu terlal berharga untuk hal-hal bodoh seperti itu.”

“Ingatlah apa yang dirkatang oleh Hasan Al Bashri, ““Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”” Kau itu berlari menuju kematianmu, dan jangan sampai kematian bertemu denganmu saat Kau sedang menghadapiku seperti sekarang. Ingat itu.”

Masih berusaha bicara. Namun tak bisa. Untuk sekedar berterima kasih karena mengingatkan. Memerintahkan kedua kaki untuk balik badan, dan dengan mulus tubuh bergerak. Berjalan maju, langkah pertama berhasil. Langkah kedua aku berhenti lalu menengok untuk melihatnya lagi. Mengucapkan sesuatu dalam hati berharap dia tahu apa yang aku pikirkan.

Siapa namamu?

Lalu dia tersenyum. Senyum bahagia yang paling tulus yang pernah aku lihat, lalu berkata, “Namaku Kemarin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: