Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Mauut VI; Sudah Tidak Sakit Lagi

Aku ingin bilang, “Sudah tidak sakit lagi, sudah bahagia, sudah tenang di sana.” Tapi tidak ku ucapkan. Hanya jadi kata-kata yang terbentuk di hati. Apakah tepat mengucapkan kata-kata itu saat orang lain kehilangan orang-orang yang terkasihi? Apakah pantas mengungkapkan semua yang berada di dalam hati tapi belum tentu diterima oleh yang mendengarkan?

Aku ingin berempati, aku ingin menenangkan, aku ingin orang itu tidak bersedih. Tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mengucapkan kata-kata standar saja karena aman. Berubahkah aku? Terkadang aku bertanya dalam diri. Bisa jadi dikelilingi oleh begitu banyak kematian membuatku mati rasa? Menjadi pegiat sosial yang kental dengan cerita-cerita sedih orang tua-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka karena kangker bisa jadi salah satu yang membuatku begini. Melihat orang tua yang sangat menyayangi anak-anak mereka namun harus melihat mereka menderita dan kesakitan karena penyakit yang diderita. Mendengar kata-kata, “Kenapa tidak saya saja yang sakit, kenapa dia?” sambil berlinang air mana. Menyimak cerita-cerita pegiat sosial lain yang menyaksikan sendiri sakaratul maut mereka dan pasrahnya orang tua yang mendampinginya. Tapi mati rasa sepertinya tidak tepat.

Aku sekarang jelas melihat bahwa semuanya hanya titipan saja. Bagaimana cara kita mencintai semua yang dititipkan hanya karena Allah adalah suatu pembelajaran. Bagaimana kita menerima keadaan walau seperti ada batu menindih dada, walau seperti sembilu yang mengiris perih, seperti itulah Allah azza wa jalla ingin mengajarkan kita bahwa mencintai janganlah terlalu. Tapi mencintailah karena kita cinta kepada Sang Maha Cinta, karena kita sayang kepada Sang Maha Kasih. Jadi saat mereka pergi bukan sakit yang terasa, tapi keyakinan bahwa DIA lebih sayang kepada mereka yang pergi. Tapi kesadaran bahwa DIA tahu yang terbaik untuk kita dan semua yang ditinggalkan.

Aku ingin bilang, “JANGAN bersedih, Saudaraku… Menangislah seperti saat Rasulullah ditinggalkan oleh anaknya tercinta, Ibrahim. Menangis itu rahmat. Menangis itu tanda cinta. Tapi Papa sudah tidak sakit lagi, sudah bahagia, sudah tenang di sana. Jadi menangislah tapi jangan bersedih. Karena Allah jelas sangat sayang kepada Papa.”

Tapi aku tidak mengatakannya.

Semoga bisa jadi hikmah bersama bahwa,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Bahwa mengingat kematian adalah sesuatu yang harus selalu kita biasakan. Lihatlah Ustman bin Affan yang selalu saja menangis saat berziarah kubur lalu mengatakan hal yang Aku pun tidak habis pikir kenapa Aku tidak pernah memikirkannya,

“Utsman jika berada di suatu kuburan, ia menangis sampai membasahi jenggotnya. Dikatakan kepadanya, “Disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis, tetapi engkau menangis karena ini?”. Beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama dari beberapa persingggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka tidaklah datang setelahnya kecuali lebih berat.’” [HR. At-Tirmidzi no. 2308, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi no. 1878]

Dan menangislah saat yang dicintai telah kembali ke rahmatullah, karena tangisan kepada yang dicintai adalah rahmat. Menangislah namun jangan meratapinya. Seperti yang Rasulullah saw lakukan saat Ibrahim anaknya meninggal,

Abi Dawud dan Ibn Majah: Anas berkata,”Kami masuk bersama Rasulullah SAW, sementara Ibrahim (Putra Rasulullah SAW) dalam keadaan sakaratul maut. Wajah Rasulullah basah dengan linangan airmata. Melihat itu, Abdurrahman bin Auf berkata, “Engkau ya Rasul ALLAH, (menangis)?”. Beliau  menjawab, “Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat.”. Kemudian Beliau menjelaskan lagi, “Mata menangis, hati bersedih, tapi kita tidak mengucapkan apapun kecuali yg diridhoi oleh ALLAH. Dan kami sangat sedih dngn perpisahanmu, wahai Ibrahim”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Salah satu putri Rasulullah SAW mengutus seseorang pada beliau memberitahukan bahwa anaknya meninggal, seraya meminta pada beliau agar datang melihat. Rasulullah SAW segera berangkat dan ditemani Sa’ad bin Ubadah & beberapa sahabat. Jenasah anak itu diserahkan pada Rasulullah SAW yg sedang menangis terisak-isak dan airmata beliau jatuh berderai. Sa’ad berkata, “Apa ini, ya rasul ALLAH?”. Beliau menjawab,”ini adalah rahmat, yang ALLAH ciptakan di dalam hati hamba-hambanya. ALLAH hanya menyayangi hambanya yang penyayang”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Wallahu a’lam bish shawaab…

Semoga ini bisa jadi salah satu pemberat amal Papa saudaraku Dedi Setiawan, karena kembalinya beliau ke rahmatullah sudah menjadi inspirasi untuk pribadi. Untukmu juga kah? Aku tak tahu, hanya Allah azza wa jalla saja yang memberi taufik.

Allahummaghfirlahu wa’aafihi wa’fua’anhu…

3 thoughts on “Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Mauut VI; Sudah Tidak Sakit Lagi

  1. darusetiawan says:

    Reza…. ketemu di wp ya.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: