Malu

Sedang chatting dengan seorang sahabat, lalu kaget dengan apa yang ditulis sendiri, memang memikirkannya, tapi tidak pernah dengan ungkapan yang terasa tepat setiap kali ingin ditulis. Hanya jadi draft tulisan dan sampah di rencana-rencana tulisan blog.

“Masih ke Allah dulu… Ane malunya sama manusia terus, tapi belum malu ke Allah.”

Dan seketika langsung teringat dengan hadist ini,

“Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)

Dan untuk mendapatkan redaksional yang tepat pastinya harus browsing dulu di internet. Dan entah kenapa jadi campur aduk semuanya. Menemukan dalil-dalil lain yang terkait dengan hadist tersebut dan membuat semua hal yang sudah terjadi melintas berupa potongan-potongan cerita bergerak dengan sangat cepat, saling bertabrakan – tidak pecah namun membuat rangkaian yang membuatku jadi mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Jika melakukan kesalahan, maka ketakutan yang pertama yang dirasakan adalah tentang pandangan manusia dengan apa yang telah dilakukan. Jika melakukan suatu aib, maka tubuh gemetar menggigil karena frustasi harus menutupinya seperti apa. Tapi tidak berpikir apa yang akan dilakukan untuk membuat lupa Sang Maha Melihat dengan apa yang telah dilakukan, agar DIA tidak ingat lagi dengan kesalahan, agar DIA tidak pedulikan lagi dengan aib-aib.

Hidup sudah salah kaprah.

Yang menyedihkan adalah sudah tidak tahu lagi yang mana yang salah, yang mana yang seharusnya jadi aib… Kita hidup dimana yang salah sudah normal dilakukan orang kebanyakan, kita hidup dimana yang aib menjadi kebiasaan yang tidak apa-apa diterapkan sehari-hari.

Lebih baik sekarang melihat diri. Kita sudah mengkasihani diri atau belum? Tubuh bagian mana yang akan dibakar oleh api neraka pertama kali karena kita tidak menjaganya di sini?

“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935)

Salman al Farisi mengatakan,

“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

Lalu diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: