Category Archives: Hidup Bersama Rasulullah

Bukan Dengan SHODALLAHUL ‘AZHIM…

Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah pernah menjelaskan dalam fatwanya sebagai berikut:

Banyak orang yang membiasakan mengucapkan ‘shodaqollahul ‘azhim’ ketika selesai membaca Al Qur’an Al Karim, padahal sebenarnya amalan ini tidak ada dasarnya. Tidak boleh membiasakan bacaan ini, bahkan kalau ditimbang-timbang dengan aturan syari’at amalan ini termasuk amalan tanpa tuntunan jika diyakini oleh yang membacanya bahwa amalan tersebut sunnah. Sehingga sepantasnya amalan itu tidak diteruskan. Janganlah dibiasakan karena tidak ada dalil yang mendukungnya. Sedangkan ayat yang menyebutkan,

“Ucapkanlah: shodaqallahu” [QS. Ali Imran: 95]

bukanlah dimaksudkan untuk hal ini. Ayat tersebut adalah perintah Allah untuk menjelaskan mengenai kebenaran kitab Allah yaitu taurat dan lainnya. Allah pun membenarkan isi Al Qur’an Al ‘Azhim kepada hamba-Nya. Namun sekali lagi, ayat tersebut bukan dalil untuk menyatakan disunnahkannya mengucapkan bacaan tadi setelah membaca Al Qur’an atau setelah membaca beberap ayat atau membaca surat. Karena tidak pendukung pula maksud tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Intinya, menutup membaca Al Qur’an dengan ucapan ‘shodaqollahul ‘azhim’ tidak ada dasarnya dalam Islam. Namun jika dilakukan kadang-kadang saja karena ada faktor yang menuntut, maka tidaklah mengapa. (Sumber fatwa: http://www.binbaz.org.sa/mat/215) Continue reading

30 + 6 = 360

Tahukah Anda bagaimana cara puasa sepanjang tahun?

Jawaban:

Shaum sunnah enam hari di bulan syawal! Rasul Muhammad saw yang bilang sendiri,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[HR. Muslim]

Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). [Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.]

Nah, biasanya muncul pertanyaan; Harus berturut-turut atau boleh ‘loncat-loncat’ puasanya? Continue reading

Empat Bentuk Terkabulnya Doa

Pasti terkabul… Maka berdoalah yang banyak…

Tahukah anda bahwa ayat tentang doa dirangkaikan setelah ayat-ayat tentang puasa Ramadlan? Al Baqarah 183-185 adalah ayat-ayat puasa dan ayat ke 186-nya adalah ayat tentang doa. Maka dari itu Ramadlan juga disebut bulan doa, bulan dimana doa-doamu diijabah, tidak tertolak dan berada di sisi Allah tabaraka wa ta’ala.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran [QS. al-Baqarah (2):186]

Isi doa itu hanya ada dua jenis. Jenis pertama doa tentang memanjatkan permintaan untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan jenis kedua adalah doa tentang memohon dijauhkan dari segala keburukan-keburukan. Apapun bentukan, apapun kalimatnya, apapun cara mengibanya, sespesifik apapun panjat-annya; manusia selalu berdoa tentang dua hal ini.

Jangan pernah ragu dalam berdoa, jangan pernah khawatir doa tidak didengar, jangan pernah takut untuk memanjatkan apapun (asal bukan kemaksiatan). Pasti terkabul karena itulah yang Allah tabaraka wa ta’ala sudah janjikan pada firmannya di atas. Dan ada empat bentuk bagaimana Allah tabaraka wa ta’ala mengabulkan doa-doa. Continue reading

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Hanya ada tiga keadaan dibolehkan kita mengangkat tangan ketika berdoa. Tidak boleh sembarangan. Semua ada syariatnya.

Mengangkat tangan dalam berdo’a merupakan salah satu tuntutan dalam agama ini.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, malu dari hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (berdo’a) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya.” [HR. Muslim]

Tidak diragukan lagi bahwa berdo’a dengan mengangkat tangan adalah disyariatkan bahkan merupakan sebab terkabulkannya do’a. Akan tetapi hal ini menyisakan sebuah pertanyaan, apakah mengangkat tangan disyariatkan dalam setiap do’a? Continue reading

Sunnah Berbuka dengan KURMA atau AIR?

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,

Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah

(artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)

[HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Doa ini yang menjawab pertanyaan yang biasanya ditanyakan, makan kurma dulu atau minum air dulu? Semua orang ingin mengikuti sunnah Rasulullah saw. untuk mendapatkan pahala-mengikuti-sunnah, apalagi di bulan Ramadlan. ‘Rasa haus telah hilang…’ jelas menjawab bahwa air adalah yang mengawali Rasulullah dalam berbuka puasa.

Doa ini juga menjelaskan tata cara Rasulullah saw. berbuka puasa. Dari ‘…haus telah hilang…’ diketahui bahwa Rasulullah membatalkan puasanya dengan minum air terlebih dahulu lalu membaca doa ini. Oleh karena itu, doa ini tidak dilafadzkan saat membatalkan puasa. Sebelum minum tetaplah mengucapkan basmallah seperti yang telah Rasulullah saw. ajarkan,

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. [HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858]

Nah, setelahnya baru Rasulullah memakan kurma sebelum beranjak untuk shalat maghrib, Continue reading

Bolehkah Membeli Emas Secara Kredit?

Pertanyaan:

Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini.

Jawaban:

Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya,

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai” [HR. Muslim]

Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya.

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Continue reading

Mendahului Gerakan Imam

Seperti apa yang disebut mendahului-gerakan-imam, dijelaskan dengan detail dalam hadis di bawah ini;

Barra bin ‘Azibradhiallahu’anhu menyatakan, “Kami dahulu shalat di belakang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila nabi mengatakan ‘sami’allahu liman hamidahmaka tidak ada seorang pun di antara kami yang menyondongkan punggungnya sampai Nabishalallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dahinya di tanah.” (Mutafaq ‘alaihi)

Hadis-hadis tentang mendahului-gerakan-iman shalat banyak tentang gerak perpindahan dari itidal menuju sujud. Karena gerakan ini adalah gerakan yang paling sering terlalaikan oleh sebagian besar makmum. Dari yang bergerak berbarengan dengan gerakan imam, dari yang sudah mencondongkan badan sebelum imam sempurna sujud, sampai, bahkan ada juga yang mendahului imam.

Perbuatan mereka itu tentu tidak ada tujuan apa pun kecuali terpengaruh godaan setan. Apalagi kalau perut sudah lapar, apalagi kalau ada acara televisi yang sebentar lagi mulai, apalagi kalau ada pekerjaan yang belum selesai, dan sebagainya yang biasa dibisiki setan saat kita shalat. Continue reading

Puasa Asyura

Siapakah orang miskin itu? Orang miskin adalah mereka yang tidak memiliki bekal apapun untuk dibawa dan dipamerkan dihadapan Sang Pencipta pada waktu menghadap. Anda miskin atau merasa miskin? Allah tabaraka wa ta’ala memberikan ujian maksiat namun Dia juga memberikan solusi untuk perbaikan nilai bagi yang tidak lulus ujian. Salah satunya adalah puasa Asyura.

Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu.” [HR. Muslim, no. 1982]

Yang keutamaannya adalah menghapuskan dosa-dosa kita setahun yang lalu,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]

Siapa yang tidak mau dosanya dihapuskan? Siapa yang tidak mau timbangan dosanya berkurang di yaumil mizan nanti? Siapa yang tidak berharap mudah menyusuri shiratal mustaqim? Siapa yang tidak mau menikmati jannah? InsyAllah kita semua ingin :)

Lalu apa pula itu puasa Tasu’a? Continue reading

Yang Mau Qurban, Jangan ke Salon Dulu yak! :D

Bagi yang sudah meniatkan berqurban tahun ini, sepertinya hasrat pergi ke salon untuk meni-pedi atau potong pendek rambut atau cabut bulu kaki yang belebihan harus ditunda sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah berakhir nih. Nih hadisnya,

Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” [HR. Muslim]

“…menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.”; Rambut dan kulit disini berarti rambut dan kuku orang yang berqurban, bukan rambut dan kuku hewan yang mau diqurbankan. Karena banyak penafsiran bahwa rambut disini adalah rambutnya si hewan qurban. Dan ‘menyentuh’ disini berarti mencukur, mencabut, atau pun segala cara yang menyebabkan rambut itu hilang dengan sengaja.

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku maupun rambut manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah II/376).

Nah, untuk pengingat bahwa tahun ini 29 Dzulqa’dah jatuh tanggal 27 Oktober 2011, itu pun batas akhirnya sampai sebelum maghrib. Karena dalam penanggalan hijriyah adzan maghrib menandakan hari baru. So, 27 Oktober 2011 maghrib sudah terhitung 1 Dzulhijjah. Jadi semua yang gondrong, mau rambut gondrong atau kuku gondrong silakan dipotong dan dirapikan sebelum 1 Dzulhijjah yak! Continue reading

Ikut Waktu Wukuf atau Ikut Tanggal Sembilan?

Untuk waktu pelaksanaan puasa arafah; Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan hijriyah waktu setempat dan tidak berpapasan dengan wukuf di arafah?

Permasalahan yang sering muncul di Indonesia adalah; apakah saat jamaah haji wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah kita ikut puasa arafah di Indonesia padahal saat itu masih tanggal 8 Dzulhijjah, atau kita menunggu tanggal 9 Dzulhijjah baru puasa arafah? Dan ini selalu menjadi permasalahan. Maka di bawah ini adalah pendapat ulama tentang hal ini. Bukan pendapat penulis, sekali lagi ini pendapat para ulama.

<drag> <copy> <paste>

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mendapat pertanyaan sebagai berikut,

“Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arofah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

“Permasalahan ini adalah derivat dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.

Misalnya di Mekkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka. Continue reading