Category Archives: Membaca Ayat-ayat CintaNYA

Kamu Harus Punya Minimal Satu Anak Yang Sholeh

Punya anak sholeh itu paket lengkap. Pasti sudah tahu kan tentang hadis mengenai tiga hal yg kita bawa saat kita mati nanti,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jangan sampai yang ngajarin ngaji anak-anak kita itu guru ngaji, harus kita yang ngajarin. Karena mengenal huruf hijaiyah dan membacanya adalah ilmu yang bermanfaat. Suatu hari saat anak sudah besar lalu dia mengajarkannya lagi ke orang lain dan ke anaknya sendiri maka pahala nya juga mengalir ke kita. Dan itu berlaku untuk semua ilmu lainnya, seperti ilmu mengenal huruf, bagaimana cara berhitung, pelajaran moral tentang kebaikan, semua hal yang dapat menjadi manfaat untuk kehidupannya dan suatu hari kemungkinan dia akan mengajarkannya ke orang lain maka pahalanya pun akan mengalir ke kita. Continue reading

Advertisements

Waktu Jeda

Kenapa manusia harus mengalami waktu jeda?

Jeda untuk menyadari, lalu menyesal, kemudian mengutuk diri… Dasar bodoh. Mereka melakukan kesalahan yang sama berkali-kali namun mengalaminya seakan-akan yang pertama kali. Bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan sudah pasti tekad yang sama yang sudah pernah diucapkan berkali-kali. Seakan semuanya hanyalah sebuah siklus berulang yang suatu hari akan terjadi lagi.

So, this the right time to break the circle! Continue reading

Patah Hati

Suaranya sendu, aku tidak tega untuk tertawa melihat wajah seakan-akan minta dikasihani seperti ini. Orangnya suka iseng, makanya agak aneh saat melihatnya sedih begini. Menunggunya bicara terlalu lama, “Ada apa?” Aku yang mulai.

“Aku ditolak.” Kata-kata pertamanya. “Ternyata tidak enak ya ditolak.” Terkekeh, seakan ada yang lucu.

“Kayak jadi malas ngapa-ngapain sekarang. Terserap semua kekuatan di badan oleh kata-kata penolakannya. Arrrrgh!” Mengacak-acak rambutnya sendiri. Mukanya jadi lesu, pandangannya kosong, sepertinya flashback kembali kejadian yang barusan dia alami. Yang aku tahu, dia sedang dekat dengan seseorang dan aku tidak pernah tahu progres hubungan mereka seperti apa. Yang sedang dekat dengannya saja aku tidak tahu siapa.

“Kenapa begitu dingin? Aku ingin lakukan apapun untuknya. Entahlah kenapa tiba-tiba semuanya berubah dua hari ini. Hanya ingin membuatnya tersenyum, tapi kenapa malah begini akhirnya? Salah dimana ya?” Bicara sendiri seakan aku tidak ada disana. Aku tahu semua orang hanya perlu didengarkan. Terkadang yang punya masalah tidak perlu solusi, mereka hanya butuh didengar saja. Mereka hanya butuh ditemani. Okelah, aku menjadi pendengarmu sekarang, Teman. Continue reading

Malu

Sedang chatting dengan seorang sahabat, lalu kaget dengan apa yang ditulis sendiri, memang memikirkannya, tapi tidak pernah dengan ungkapan yang terasa tepat setiap kali ingin ditulis. Hanya jadi draft tulisan dan sampah di rencana-rencana tulisan blog.

“Masih ke Allah dulu… Ane malunya sama manusia terus, tapi belum malu ke Allah.”

Dan seketika langsung teringat dengan hadist ini,

“Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)

Dan untuk mendapatkan redaksional yang tepat pastinya harus browsing dulu di internet. Dan entah kenapa jadi campur aduk semuanya. Menemukan dalil-dalil lain yang terkait dengan hadist tersebut dan membuat semua hal yang sudah terjadi melintas berupa potongan-potongan cerita bergerak dengan sangat cepat, saling bertabrakan – tidak pecah namun membuat rangkaian yang membuatku jadi mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Jika melakukan kesalahan, maka ketakutan yang pertama yang dirasakan adalah tentang pandangan manusia dengan apa yang telah dilakukan. Jika melakukan suatu aib, maka tubuh gemetar menggigil karena frustasi harus menutupinya seperti apa. Tapi tidak berpikir apa yang akan dilakukan untuk membuat lupa Sang Maha Melihat dengan apa yang telah dilakukan, agar DIA tidak ingat lagi dengan kesalahan, agar DIA tidak pedulikan lagi dengan aib-aib.

Hidup sudah salah kaprah.

Yang menyedihkan adalah sudah tidak tahu lagi yang mana yang salah, yang mana yang seharusnya jadi aib… Kita hidup dimana yang salah sudah normal dilakukan orang kebanyakan, kita hidup dimana yang aib menjadi kebiasaan yang tidak apa-apa diterapkan sehari-hari.

Lebih baik sekarang melihat diri. Kita sudah mengkasihani diri atau belum? Tubuh bagian mana yang akan dibakar oleh api neraka pertama kali karena kita tidak menjaganya di sini?

“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935)

Salman al Farisi mengatakan,

“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

Lalu diam.

Doorprize

Lailatul Qadr itu door prize; kupon undiannya diambil di sepuluh hari terakhir, dikocok di waktu-waktu rahasia yang telah ditentukan, dan memanggil nama mereka yang memang jelas-jelas standby untuk menunggu panggilan. Lailatul Qadr hanya untuk mereka yang tenaga sisanya masih banyak, untuk mereka yang terseok tapi masih tersenyum, untuk mereka yang lelah tapi terus memaksakan, untuk mereka yang meninggalkan kehangatan untuk tetap terjaga, untuk mereka yang senang memancing; dapat atau tidak dapat ikan mereka bahagia.

Malam kemuliaan hanya untuk mereka para pengejar pahala…

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” [HR. Bukhari]

Berhenti untuk mencari-cari ciri setiap pagi datang, berhenti untuk meraba-raba apakah malam ini dia datang atau tidak, berhenti memilih-milih waktu untuk berdiam diri walau memang ada kabar dengan akurasi mendekati 100% yang dikabarkan oleh manusia yang tidak pernah bohong seumur hidupnya dan dipercaya Allah tabaraka wa ta’ala untuk membawa risalahNYA. Dengan tetap berharap bertemu dengannya, namun berhenti untuk memikirkan hal-hal hanya menambah lelah karena gagal mencari ciri, tidak berhasil meraba malam, atau kecewa karena memilih malam-malam yang tidak tepat.

Ah… Ramadhan sebentar lagi pergi. Continue reading

Idle

Dia menelepon lagi, seperti biasa curhat…

“Apa yang aku inginkan di dunia? Entahlah. Aku berada pada kondisi idle. Aku tidak menginginkan apapun. Aku tidak punya apa pun yang ingin aku raih. Aku tanpa passion, aku tanpa cita-cita, aku tanpa mimpi. Sepertinya butuh psikiater.”

Yeah, kamu butuh brother.

Sudah tahu arahnya kemana, tapi seperti biasa hanya ingin didengarkan saja. Dia tidak pernah meminta solusi, hanya ingin cerita. Dan mendengarkan sajalah tugas saat ini.

“Mungkin karena terlalu sering kecewa sehingga berharap saja aku malas. Mungkin karena terlalu sering gagal sehingga berjuang saja aku tidak mau. Mungkin apa yang benar-benar aku inginkan tidak mungkin tercapai sehingga aku tidak terlalu menginginkan yang lain. Hidup itu hanya sekedar rutinitas sekarang. Bukan sesuatu yang aku ingin hidupi, bukan sesuatu yang ingin aku tinggali lama-lama.”

Ya ya… Asal jangan coba-coba bunuh diri lagi ya.  Continue reading

Klise

Nyatanya memang begitu… Manusia itu ingin dimengerti. Manuasia itu ingin orang-yang-‘harusnya’-sudah-mengenalnya tahu apa yang dia rasakan. Manusia mencari perhatian agar dilihat, agar ditanya, agar orang lain ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya. Manusia itu lemah… Maka mereka terkadang mencari kekuatan dari luar, mencari kekuatan dari orang lain, mencari-cari agar dikuatkan orang lain.

Tapi sayang manusia lain mengalami hal yang sama.

Mereka tidak peduli denganmu. Dia tidak peduli dengan apa yang kau rasakan. Dia tidak mau tahu tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sibuk dengan perasaan mereka sendiri. Mereka sudah lelah dengan masalah sendiri. Mereka mungkin kenal denganmu, mereka mungkin tahu apa yang sedang terjadi, mereka mungkin sudah mengira-ngira kenapa kamu melakukan ini dan itu, namun mereka lebih tahu bahwa diam adalah hal yang paling aman yang dapat mereka lakukan. Walau kamu berteriak dalam diam, walau kau merana dengan kesendirian. Continue reading

Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Mauut VI; Sudah Tidak Sakit Lagi

Aku ingin bilang, “Sudah tidak sakit lagi, sudah bahagia, sudah tenang di sana.” Tapi tidak ku ucapkan. Hanya jadi kata-kata yang terbentuk di hati. Apakah tepat mengucapkan kata-kata itu saat orang lain kehilangan orang-orang yang terkasihi? Apakah pantas mengungkapkan semua yang berada di dalam hati tapi belum tentu diterima oleh yang mendengarkan?

Aku ingin berempati, aku ingin menenangkan, aku ingin orang itu tidak bersedih. Tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mengucapkan kata-kata standar saja karena aman. Berubahkah aku? Terkadang aku bertanya dalam diri. Bisa jadi dikelilingi oleh begitu banyak kematian membuatku mati rasa? Menjadi pegiat sosial yang kental dengan cerita-cerita sedih orang tua-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka karena kangker bisa jadi salah satu yang membuatku begini. Melihat orang tua yang sangat menyayangi anak-anak mereka namun harus melihat mereka menderita dan kesakitan karena penyakit yang diderita. Mendengar kata-kata, “Kenapa tidak saya saja yang sakit, kenapa dia?” sambil berlinang air mana. Menyimak cerita-cerita pegiat sosial lain yang menyaksikan sendiri sakaratul maut mereka dan pasrahnya orang tua yang mendampinginya. Tapi mati rasa sepertinya tidak tepat. Continue reading

Solusi Semua Masalah

Sore ini seorang adik kelas menghubungi lewat chat. Problems? Off course he has really big problem and I felt it from the beginning of his words…

Dia bilang, “I’m done! Everything is done now…

“Sebentar lagi  mungkin aku sudah tidak punya Allah lagi.”

Ga ada arahan, ga ada tujuan.”

“Selalu cobaan berat.. Kenapa begini?!”

Bicara tentang semua teman seperjuangan yang dulu dengan misi sama sudah kehilangan arah. “Ternyata mereka semua tidak ada yg tersisa, gugur di jalan. Dan aku mungkin tinggal nunggu waktu.”

“Aku selalu pesimis karena panutanku semuanya hilang dariku satu-satu. Kak Yandri, Pak Tides, Mas Reza, Kak Ramdani ESQ…” Continue reading

Menghina Bapak Orang Lain Termasuk Dosa Besar

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami al-Laits dari Ibnu al-Had dari Sa’ad bin Ibrahim dari Humaid bin Abdurrahman dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Diantara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin al-Mutsanna serta Ibnu Basysyar semuanya dari Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Sufyan keduanya dari Sa’ad bin Ibrahim dengan sanad ini seperti hadits tersebut.”[HR. Muslim]

Dahulu para sahabat heran jika ada orang yang berani mencaci orang tuanya sendiri, namun sekarang mencaci orang tua orang lain itu bisa jadi bahan lelucon, Kekurangan orang tua jadi bahan candaan, lelucon untuk saling mengakrabkan diri dengan orang lain, bahkan sampai untuk mencari uang seperti kita lihat di komedi-komedi yang terlihat di televisi. Orang tua kita dijadikan lelucon dan kita tidak marah? Sedang menghina kawan kita saja sudah dibilang keburukan oleh Rasulullah saw. apalagi menghina orang tua? Continue reading