Category Archives: MicroNote

Ganti Manual Book

Harusnya tidak perlu khawatir kalah, karena yang ngerti AlQuran lebih sedikit daripada yang tidak ngerti. Lha wong khamar yang jelas dilarang[1] aja masih banyak yg minum. Khamar yang diwanti-wanti bahwa ini barang dilabel HARAM saja tetap banyak yang konsumsi, jadi anjuran tidak memilih pemimpin berdasarkan Al Maidah 51 juga pasti ada aja yang langgar, ada aja yang tabrak, ada aja yang ga peduli. Dengan berbagai alasan logis, dengan berbagai pembenaran, dan dengan berbagai justifikasi yang disetujui oleh diri sendiri.

Lucu kan?

Sedang yang katanya kitab suci sebagai pedoman hidup sekarang tidak dipakai untuk menjadi pedoman hidup. Huft. Continue reading

The Alchemist

Hanya ingin menulis bebas. Menulis itu membebaskan pikiran. Menulis adalah cara sebagian orang untuk bicara tanpa suara. Menulis untuk berpikir. Menulis itu meditasi; mencari-cari kata yang tepat, menggali-gali rasa yang pernah ada, mengingat-ingat teori-teori yang dibaca lalu terjadi nyata, lalu akhirnya menemukan sesuatu yang baru dari hal-hal lama. Seperti seorang alchemist/ahli kimia; memadukan untuk menemukan.

Hanya ingin sembarang mengarang. Tidak ada tujuan, tidak ada keinginan, tidak tahu harus melakukan apa, tidak harus menulis padahal, namun memilih menulis untuk mengekspresikan kebosanan. Menulis adalah menyajikan kata untuk disantap oleh mereka yang lapar. Menulis itu meracik gagasan sederhana dalam balutan diksi dan majas yang mudah dimengerti, walau terkadang hal-hal rahasia lebih enak dibuat rumit agar hanya penulis saja yang mengerti apa artinya dengan makna yang tetap tersampaikan. Seperti seorang chef/ahli masak; mencampur untuk membuat rasa. Continue reading

Melompatlah…

Berdiri di tepi jurang. Jika berdiri di tepi jurang adalah sebuah pertanyaan, maka bentuk pertanyaannya kira-kira seperti ini:

APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN DI TEPI JURANG?

Dan jawaban untuk pertanyaan berdiri di tepi jurang itu pun biasanya pilihan ganda dan pilih salah satu yang paling pas. Paling pas dengan suasana hati, paling pas dengan keadaan diri, paling pas dengan beban yang harus dibawa, paling pas dengan konsekuensi apa yang mampu kita hadapi, dan paling pas dengan ganjaran yang akan kita terima di depan. Pilihan gandanya kira-kira seperti ini:

  1. MUNDUR DAN MENJAUH DARI TEPI JURANG,
  2. HANYA BERDIRI,
  3. MENIKMATI PEMANDANGAN,
  4. MELOMPAT.

Setiap orang punya jawabannya masing-masing.

Sebagian orang berpikir keras tentang apa yang akan dilakukan, mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, menghitung-hitung kebaikan dan keburukan dari konsekuensi setiap pilihan, dan mencari-cari informasi, rekomendasi, dan testimoni dari orang-orang yang sebelumnya melakukan hal yang sama. Tapi sebagian yang lain berpikir mudah bahwa apapun yang terjadi di tepi jurang maka itu sudah TAKDIR. Continue reading

Tersesat

Tahapannya ternyata sudah jelas:
Awalnya aku merasa sendirian,
Lalu aku marah dengan sepi,
Lalu aku tak berdaya,
Lalu aku berserah diri,
Lalu aku lelah menunggu,
Lalu aku mencari perhatian,
Lalu aku berani mencari teman yang sama,
Lalu aku terjerumus lumpur dan tenggelam,
Lalu aku menikmati tak bernafas,
Lalu aku tersesat,

Pertanyaannya saat aku tersesat nanti apakah aku bisa menemukan jalan dengan titik cahaya di depan? Apakah mataku masih mampu menemukan cahaya walau itu redup? Apakah aku masih bisa percaya pada diri untuk membedakan redup cahaya atau bias kegelapan? Apakah akan ada yang mengulurkan tangan bersihnya untuk menangkapku yang kotor berlumur lumpur?

Tapi opsi terakhir sepertinya hanya angan saja. Aku yang harus menolong diri sendiri. Aku harus menolong diri sendiri. Hanya aku yang harus menolong diri sendiri. Continue reading

Kemarin

Dia berkata, “Kenapa kau tetap berada disini?”

Menatapnya bingung. Siapa dia? Seolah-olah mengenal, menatap lurus tepat ke mata, menatap dengan pandangan iba, mengucapkan kata-kata itu seakan-akan mengerti apa yang seharusnya diri lakukan. Dan di mana ini? Melepas mata dari matanya, lalu memandang sekeliling. Tak ada ide. Tak tahu dimana.

Dimana ini? Otak berkata, namun mulut tidak mampu berkata. Memaksa namun tetap tak bisa. Tak ada siapa-siapa kecuali dia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua hal perlu dikeluarkan dalam bentuk kata-kata. Kenapa Kau masih di sini?”

Pertanyaan yang sama. Jawaban tak ada. Mulut pun tak ada guna karena pun tak punya jawabnya.

“Jangan terus tinggal disini, Kawan… Jangan buang waktumu percuma. Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali. Jangan kembali, tapi berjalan majulah. Jangan menengok, hadapi yang ada di depanmu.”

Hanya bisa menelengkan kepala, mengira-ngira maksudnya apa. Berpikir-pikir siapa dia, pernahkah bertemu dengannya sebelumnya. Bertanya-tanya kenapa di sini menghadapinya. Mau bergerak maju mendekat kepadanya, namun kakiku kaku. Menunduk, memberi perintah kepada keduanya agar melangkah tapi sia-sia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua harus dilihat dari dekat. Terlalu dekat melihat terkadang hanya membuatmu tidak bisa melihat semua gambaran besar tentang kenapa sesuatu terjadi…” Continue reading

MASJID

Satu hal yang menjadi penarik untuk datang ke masjid itu adalah karena ingin mengamati orang-orang yang datang ke masjid. Apalagi di waktu-waktu yang jauh setelah shalat pertama di lakukan di masjid itu. Selonjor kaki, bersender di dinding yang paling belakang, berpura-pura istirahat, tapi mata tetap awas untuk menyadap. Menyadap semua tingkah laku, desiran-desiran ucapan doa lirih yang menjadi terdengar telinga karena kesungguhan dalam meminta, dan lantunan-lantunan ayat-ayat suci dengan berbagai macam nada.

Mengamati dan mendapati mereka datang ke sini dengan kesungguhan hati. Di salah satu pojok ada yang asyik dengan tilawah Al Quran-nya, bukan masalah merdu atau tidaknya di telinga, namun yang mengagumkan buat apa dia tilawah di waktu seperti ini? Lalu sekelompok remaja datang dengan ribut, berdebat siapa yang jadi imam setelah salah satu dari mereka melakukan iqamah, saling dorong-dorong, sampai yang mempunyai jenggot lebih yang dipilih dengan paksa karena semua bersekongkol sepakat memilih dia. Entahlah, padahal tidak ada korelasi jenggot dengan pantas tidaknya orang menjadi imam shalat. Hanya tersenyum, semoga mereka orang-orang yang selalu ingat untuk shalat, walau waktunya agak mepet dengan waktu shalat berikutnya. Continue reading

Harga Sebuah Surga

Ternyata hanya yang SHALIH yang masuk SURGA,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman, ‘Surga itu disediakan bagi orang-orang shalih, kenikmatan di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati.’ Maka bacalah jika kalian menghendaki firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah [32] : 17) [HR. Bukhari & Muslim]

Ternyata ALLAH ga butuh dengan ibadah yang kita lakukan,

“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaanKu” (HR. Muslim, no.2577)

Karena, Continue reading

Talking To the Moon

Karena itulah, Rasulullah saw melarang seseorang berdoa meminta kematiannya sendiri…

Dia duduk sendiri dengan kesendiriannya. Dia malas mengunyah apapun, segan menenggak apapun, tidak mau bertemu orang-orang yang dia kenal, enggan menyapa dengan ramah orang yang baru dia kenal. Tidak lapar kah dia? Sebenarnya perutnya melilit bukan kepayang, tapi masalahnya lebih melilit daripada berontak asam lambung yang sudah mengiris-iris dinding lambungnya yang rapuh. Tapi jiwanya lebih rapuh dari apapun sekarang. Bukannya dia tidak mau makan tapi dia hanya tidak ingin merasakan kenyamanan apapun sekarang. Makan hanya akan membuatnya teralihkan untuk memikirkan solusi masalahnya, walau solusinya adalah solusi tidak ada – solusi mentok – solusi jalan buntu.

Langit purnama malam itu. Dia memandangi purnama lalu bergumam yang hanya dia sendiri yang mendengarnya. Lebih baik aku bicara dengan bulan. Bicara dan tahu bahwa bulan tidak bisa memberikan apa-apa. Karena aku bicara kepada Sang Maha Kaya dan Dia tidak memberikan apa-apa kepadaku juga. Sama saja bukan?! Continue reading

Rindu Ramadlan

Hari ini tanggal 1 Rajab 1433 Hijriah. Semua orang berdoa dengan doa yang sudah sangat terkenal itu, walau memang bukan doa dari hadis shahih mana pun, dan tidak dipungkiri bahwa perbedaan pendapat tentang berdoa dengan doa ini sangatlah banyak, doa tetaplah sebuah doa.

Allahumma Baariklanaa Fii Rajaba wa Sya’baana wa Ballighnaa Ramadhaan

Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikan kami pada bulan Ramadlan

Apalah yang dilakukan seorang yang merindu selain berharap-harap untuk segera bertemu? Mungkin hal ini yang disampaikan oleh doa ini. Walau hanya sebuah doa, sebaiknya tidak terlalu dikhususkan diamalkan sampai-sampai dibaca setiap saat pada bulan Rajab dan nanti saat Sya’ban datang. Intinya jangan melakukan pengkhususan terhadap doa ini. Karena memang tidak dianjurkan mengamalkan doa-doa yang berasal dari hadis yang lemah, sebaik apapun isinya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Mari kita lihat bagaimana orang-orang shalih terdahulu mengungkapkan kerinduannya kepada Ramadlan. Mereka para shalih terdahulu mempersiapkan dan berdoa untuk menyambut Ramadlan tidak hanya pada saat bulan Rajab datang, sebagian ulama salaf mengatakan, Continue reading

Ayat Motivasi Puasa

Katanya… Ini sih masih katanya, entah ngefek tidak kepadamu.

Katanya ini motivasi, katanya ini penyemangat, katanya ini sebagai alasan mereka untuk shaum, baik shaum wajib maupun shaum sunnah. Entah ada efeknya untukmu atau tidak. Tapi ini katanya salah satu ayat motivasi bagi semua yang berpuasa.

“(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” [QS. Al Haqqah: 24]

Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati).” [Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 72] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.

Termotivasi? Heran kan dengan orang-orang terdahulu… Mereka membuat surga begitu nyata di depan mata. Sedang manusia kini membuat dunia selalu lebih nyata daripada apapun. Mungkin orang-orang terdahulu heran lihat kita, calon masuk neraka kok santai-santai. Sedang mereka para pendahulu selalu resah apakah berakhir mendapat nikmat atau tamat untuk dilaknat. Continue reading