Klise

Nyatanya memang begitu… Manusia itu ingin dimengerti. Manuasia itu ingin orang-yang-‘harusnya’-sudah-mengenalnya tahu apa yang dia rasakan. Manusia mencari perhatian agar dilihat, agar ditanya, agar orang lain ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya. Manusia itu lemah… Maka mereka terkadang mencari kekuatan dari luar, mencari kekuatan dari orang lain, mencari-cari agar dikuatkan orang lain.

Tapi sayang manusia lain mengalami hal yang sama.

Mereka tidak peduli denganmu. Dia tidak peduli dengan apa yang kau rasakan. Dia tidak mau tahu tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sibuk dengan perasaan mereka sendiri. Mereka sudah lelah dengan masalah sendiri. Mereka mungkin kenal denganmu, mereka mungkin tahu apa yang sedang terjadi, mereka mungkin sudah mengira-ngira kenapa kamu melakukan ini dan itu, namun mereka lebih tahu bahwa diam adalah hal yang paling aman yang dapat mereka lakukan. Walau kamu berteriak dalam diam, walau kau merana dengan kesendirian. Continue reading

Advertisements

Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Mauut VI; Sudah Tidak Sakit Lagi

Aku ingin bilang, “Sudah tidak sakit lagi, sudah bahagia, sudah tenang di sana.” Tapi tidak ku ucapkan. Hanya jadi kata-kata yang terbentuk di hati. Apakah tepat mengucapkan kata-kata itu saat orang lain kehilangan orang-orang yang terkasihi? Apakah pantas mengungkapkan semua yang berada di dalam hati tapi belum tentu diterima oleh yang mendengarkan?

Aku ingin berempati, aku ingin menenangkan, aku ingin orang itu tidak bersedih. Tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mengucapkan kata-kata standar saja karena aman. Berubahkah aku? Terkadang aku bertanya dalam diri. Bisa jadi dikelilingi oleh begitu banyak kematian membuatku mati rasa? Menjadi pegiat sosial yang kental dengan cerita-cerita sedih orang tua-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka karena kangker bisa jadi salah satu yang membuatku begini. Melihat orang tua yang sangat menyayangi anak-anak mereka namun harus melihat mereka menderita dan kesakitan karena penyakit yang diderita. Mendengar kata-kata, “Kenapa tidak saya saja yang sakit, kenapa dia?” sambil berlinang air mana. Menyimak cerita-cerita pegiat sosial lain yang menyaksikan sendiri sakaratul maut mereka dan pasrahnya orang tua yang mendampinginya. Tapi mati rasa sepertinya tidak tepat. Continue reading

Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu egois. Jatuh cinta itu ingin memiliki. Jatuh cinta itu resah jika yang dicintai tidak balas mencintai. Jatuh cinta itu takut kehilangan. Jatuh cinta itu ingin mengurung yang dicintai hanya untuk sendiri. Jatuh cinta itu ingin bersama terus. Jatuh cinta itu ingin berdekatan selalu. Jatuh cinta itu ingin tertawa bersama. Jatuh cinta itu ingin hidup dan mati bersama. Jatuh cinta itu marah saat yang dicintai berpaling. Jatuh cinta itu tidak kenal lelah untuk terus memberi. Jatuh cinta itu membuat buta. Jatuh cinta itu membuat tuli. Jatuh cinta itu membuatmu menabrak semua aturan yang menghalangi. Jatuh cinta itu berjuang untuk selalu membahagiakan yang dicintai. Jatuh cinta itu ingin berjalan berdua sampai tua. Jatuh cinta itu tak bisa melepaskan pelukannya. Jatuh cinta itu ingin memuji-muji yang dicintai. Continue reading

Melompatlah…

Berdiri di tepi jurang. Jika berdiri di tepi jurang adalah sebuah pertanyaan, maka bentuk pertanyaannya kira-kira seperti ini:

APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN DI TEPI JURANG?

Dan jawaban untuk pertanyaan berdiri di tepi jurang itu pun biasanya pilihan ganda dan pilih salah satu yang paling pas. Paling pas dengan suasana hati, paling pas dengan keadaan diri, paling pas dengan beban yang harus dibawa, paling pas dengan konsekuensi apa yang mampu kita hadapi, dan paling pas dengan ganjaran yang akan kita terima di depan. Pilihan gandanya kira-kira seperti ini:

  1. MUNDUR DAN MENJAUH DARI TEPI JURANG,
  2. HANYA BERDIRI,
  3. MENIKMATI PEMANDANGAN,
  4. MELOMPAT.

Setiap orang punya jawabannya masing-masing.

Sebagian orang berpikir keras tentang apa yang akan dilakukan, mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, menghitung-hitung kebaikan dan keburukan dari konsekuensi setiap pilihan, dan mencari-cari informasi, rekomendasi, dan testimoni dari orang-orang yang sebelumnya melakukan hal yang sama. Tapi sebagian yang lain berpikir mudah bahwa apapun yang terjadi di tepi jurang maka itu sudah TAKDIR. Continue reading

Tersesat

Tahapannya ternyata sudah jelas:
Awalnya aku merasa sendirian,
Lalu aku marah dengan sepi,
Lalu aku tak berdaya,
Lalu aku berserah diri,
Lalu aku lelah menunggu,
Lalu aku mencari perhatian,
Lalu aku berani mencari teman yang sama,
Lalu aku terjerumus lumpur dan tenggelam,
Lalu aku menikmati tak bernafas,
Lalu aku tersesat,

Pertanyaannya saat aku tersesat nanti apakah aku bisa menemukan jalan dengan titik cahaya di depan? Apakah mataku masih mampu menemukan cahaya walau itu redup? Apakah aku masih bisa percaya pada diri untuk membedakan redup cahaya atau bias kegelapan? Apakah akan ada yang mengulurkan tangan bersihnya untuk menangkapku yang kotor berlumur lumpur?

Tapi opsi terakhir sepertinya hanya angan saja. Aku yang harus menolong diri sendiri. Aku harus menolong diri sendiri. Hanya aku yang harus menolong diri sendiri. Continue reading

Kemarin

Dia berkata, “Kenapa kau tetap berada disini?”

Menatapnya bingung. Siapa dia? Seolah-olah mengenal, menatap lurus tepat ke mata, menatap dengan pandangan iba, mengucapkan kata-kata itu seakan-akan mengerti apa yang seharusnya diri lakukan. Dan di mana ini? Melepas mata dari matanya, lalu memandang sekeliling. Tak ada ide. Tak tahu dimana.

Dimana ini? Otak berkata, namun mulut tidak mampu berkata. Memaksa namun tetap tak bisa. Tak ada siapa-siapa kecuali dia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua hal perlu dikeluarkan dalam bentuk kata-kata. Kenapa Kau masih di sini?”

Pertanyaan yang sama. Jawaban tak ada. Mulut pun tak ada guna karena pun tak punya jawabnya.

“Jangan terus tinggal disini, Kawan… Jangan buang waktumu percuma. Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali. Jangan kembali, tapi berjalan majulah. Jangan menengok, hadapi yang ada di depanmu.”

Hanya bisa menelengkan kepala, mengira-ngira maksudnya apa. Berpikir-pikir siapa dia, pernahkah bertemu dengannya sebelumnya. Bertanya-tanya kenapa di sini menghadapinya. Mau bergerak maju mendekat kepadanya, namun kakiku kaku. Menunduk, memberi perintah kepada keduanya agar melangkah tapi sia-sia. Lalu dia berkata,

“Tidak semua harus dilihat dari dekat. Terlalu dekat melihat terkadang hanya membuatmu tidak bisa melihat semua gambaran besar tentang kenapa sesuatu terjadi…” Continue reading

Syarat dan Rukun Syahadat

Sejenak terhenyak dan sadar bahwa saat pertanyaan itu diajukan oleh Ustadz Adrial saat kajian Hadist Arba’in di Mushalla Metrasat As Sulaiman, bahwa aku tidak tahu jawabannya.

Malu? Jelas malu. Pertanyaannya sederhana; “Semua Rukun Islam yang lima itu ada Syarat dan Rukunnya. Baik itu Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Nah, Sebutkan Syarat dan Rukun Syahadat?”

Melongo saja tidak tahu harus menjawab apa. Biasanya ada beberapa ide yang menyambar di kepala saat ada pertanyaan yang ajukan, tapi pertanyaan yang ini tidak bisa dijawab. Blank.

Karena jadi PR untuk pertemuan selanjutnya, maka browsing internetlah untuk mencari. Akhirnya dapat, dan tetap saja setelah membacanya serasa membaca hal yang baru. Tidak pernah ada kajian yang membahas ini, mengingat-ingat apakah dulu saat menyampaikan materi Asy Syahadain saat menjadi mentor dulu di kampus ada yang seperti ini, tapi sepertinya lupa. Banyak dosa sepertinya.

Jadi, Rukun dan syarat Syahadat adalah sebagai berikut di bawah ini. Penting untuk diketahui? Seorang muslim harus menyadari ini penting. Mengaku muslim dan menjalankan keislaman karena syahadat, namun tidak tahu syarat dan rukun syahadat itu sungguh bodoh. Dan kejahiliyahan (hiperbola) harus diberantas dari setiap pribadi muslim dan muslimah. Continue reading

Bukan Dengan SHODALLAHUL ‘AZHIM…

Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah pernah menjelaskan dalam fatwanya sebagai berikut:

Banyak orang yang membiasakan mengucapkan ‘shodaqollahul ‘azhim’ ketika selesai membaca Al Qur’an Al Karim, padahal sebenarnya amalan ini tidak ada dasarnya. Tidak boleh membiasakan bacaan ini, bahkan kalau ditimbang-timbang dengan aturan syari’at amalan ini termasuk amalan tanpa tuntunan jika diyakini oleh yang membacanya bahwa amalan tersebut sunnah. Sehingga sepantasnya amalan itu tidak diteruskan. Janganlah dibiasakan karena tidak ada dalil yang mendukungnya. Sedangkan ayat yang menyebutkan,

“Ucapkanlah: shodaqallahu” [QS. Ali Imran: 95]

bukanlah dimaksudkan untuk hal ini. Ayat tersebut adalah perintah Allah untuk menjelaskan mengenai kebenaran kitab Allah yaitu taurat dan lainnya. Allah pun membenarkan isi Al Qur’an Al ‘Azhim kepada hamba-Nya. Namun sekali lagi, ayat tersebut bukan dalil untuk menyatakan disunnahkannya mengucapkan bacaan tadi setelah membaca Al Qur’an atau setelah membaca beberap ayat atau membaca surat. Karena tidak pendukung pula maksud tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Intinya, menutup membaca Al Qur’an dengan ucapan ‘shodaqollahul ‘azhim’ tidak ada dasarnya dalam Islam. Namun jika dilakukan kadang-kadang saja karena ada faktor yang menuntut, maka tidaklah mengapa. (Sumber fatwa: http://www.binbaz.org.sa/mat/215) Continue reading

MASJID

Satu hal yang menjadi penarik untuk datang ke masjid itu adalah karena ingin mengamati orang-orang yang datang ke masjid. Apalagi di waktu-waktu yang jauh setelah shalat pertama di lakukan di masjid itu. Selonjor kaki, bersender di dinding yang paling belakang, berpura-pura istirahat, tapi mata tetap awas untuk menyadap. Menyadap semua tingkah laku, desiran-desiran ucapan doa lirih yang menjadi terdengar telinga karena kesungguhan dalam meminta, dan lantunan-lantunan ayat-ayat suci dengan berbagai macam nada.

Mengamati dan mendapati mereka datang ke sini dengan kesungguhan hati. Di salah satu pojok ada yang asyik dengan tilawah Al Quran-nya, bukan masalah merdu atau tidaknya di telinga, namun yang mengagumkan buat apa dia tilawah di waktu seperti ini? Lalu sekelompok remaja datang dengan ribut, berdebat siapa yang jadi imam setelah salah satu dari mereka melakukan iqamah, saling dorong-dorong, sampai yang mempunyai jenggot lebih yang dipilih dengan paksa karena semua bersekongkol sepakat memilih dia. Entahlah, padahal tidak ada korelasi jenggot dengan pantas tidaknya orang menjadi imam shalat. Hanya tersenyum, semoga mereka orang-orang yang selalu ingat untuk shalat, walau waktunya agak mepet dengan waktu shalat berikutnya. Continue reading

Harga Sebuah Surga

Ternyata hanya yang SHALIH yang masuk SURGA,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman, ‘Surga itu disediakan bagi orang-orang shalih, kenikmatan di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula pernah terlintas dalam hati.’ Maka bacalah jika kalian menghendaki firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah [32] : 17) [HR. Bukhari & Muslim]

Ternyata ALLAH ga butuh dengan ibadah yang kita lakukan,

“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaanKu” (HR. Muslim, no.2577)

Karena, Continue reading