Kamu Harus Punya Minimal Satu Anak Yang Sholeh

Punya anak sholeh itu paket lengkap. Pasti sudah tahu kan tentang hadis mengenai tiga hal yg kita bawa saat kita mati nanti,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jangan sampai yang ngajarin ngaji anak-anak kita itu guru ngaji, harus kita yang ngajarin. Karena mengenal huruf hijaiyah dan membacanya adalah ilmu yang bermanfaat. Suatu hari saat anak sudah besar lalu dia mengajarkannya lagi ke orang lain dan ke anaknya sendiri maka pahala nya juga mengalir ke kita. Dan itu berlaku untuk semua ilmu lainnya, seperti ilmu mengenal huruf, bagaimana cara berhitung, pelajaran moral tentang kebaikan, semua hal yang dapat menjadi manfaat untuk kehidupannya dan suatu hari kemungkinan dia akan mengajarkannya ke orang lain maka pahalanya pun akan mengalir ke kita. Continue reading

Ganti Manual Book

Harusnya tidak perlu khawatir kalah, karena yang ngerti AlQuran lebih sedikit daripada yang tidak ngerti. Lha wong khamar yang jelas dilarang[1] aja masih banyak yg minum. Khamar yang diwanti-wanti bahwa ini barang dilabel HARAM saja tetap banyak yang konsumsi, jadi anjuran tidak memilih pemimpin berdasarkan Al Maidah 51 juga pasti ada aja yang langgar, ada aja yang tabrak, ada aja yang ga peduli. Dengan berbagai alasan logis, dengan berbagai pembenaran, dan dengan berbagai justifikasi yang disetujui oleh diri sendiri.

Lucu kan?

Sedang yang katanya kitab suci sebagai pedoman hidup sekarang tidak dipakai untuk menjadi pedoman hidup. Huft. Continue reading

Waktu Jeda

Kenapa manusia harus mengalami waktu jeda?

Jeda untuk menyadari, lalu menyesal, kemudian mengutuk diri… Dasar bodoh. Mereka melakukan kesalahan yang sama berkali-kali namun mengalaminya seakan-akan yang pertama kali. Bertekad untuk tidak melakukannya lagi, dan sudah pasti tekad yang sama yang sudah pernah diucapkan berkali-kali. Seakan semuanya hanyalah sebuah siklus berulang yang suatu hari akan terjadi lagi.

So, this the right time to break the circle! Continue reading

Patah Hati

Suaranya sendu, aku tidak tega untuk tertawa melihat wajah seakan-akan minta dikasihani seperti ini. Orangnya suka iseng, makanya agak aneh saat melihatnya sedih begini. Menunggunya bicara terlalu lama, “Ada apa?” Aku yang mulai.

“Aku ditolak.” Kata-kata pertamanya. “Ternyata tidak enak ya ditolak.” Terkekeh, seakan ada yang lucu.

“Kayak jadi malas ngapa-ngapain sekarang. Terserap semua kekuatan di badan oleh kata-kata penolakannya. Arrrrgh!” Mengacak-acak rambutnya sendiri. Mukanya jadi lesu, pandangannya kosong, sepertinya flashback kembali kejadian yang barusan dia alami. Yang aku tahu, dia sedang dekat dengan seseorang dan aku tidak pernah tahu progres hubungan mereka seperti apa. Yang sedang dekat dengannya saja aku tidak tahu siapa.

“Kenapa begitu dingin? Aku ingin lakukan apapun untuknya. Entahlah kenapa tiba-tiba semuanya berubah dua hari ini. Hanya ingin membuatnya tersenyum, tapi kenapa malah begini akhirnya? Salah dimana ya?” Bicara sendiri seakan aku tidak ada disana. Aku tahu semua orang hanya perlu didengarkan. Terkadang yang punya masalah tidak perlu solusi, mereka hanya butuh didengar saja. Mereka hanya butuh ditemani. Okelah, aku menjadi pendengarmu sekarang, Teman. Continue reading

Tanda Cinta

Dan Malaikat pun berkata, “Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”

 

Karena tanda cinta adalah saat orang itu selalu berseliweran di kepala, guling-guling di pikiran, lari-lari seketika tanpa jadwal. Tak perlu mereka tahu bahwa nama mereka disebut dalam doa, di setiap panjat, di waktu-waktu tak tentu – hanya ingin mendoakannya saja saat itu. Mereka tidak perlu tahu, bahkan berharap agar mereka melakukan hal yg sama kepada kita saja tidak terpikir.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR Muslim)

 

Hanya ingin melihat mereka bahagia saja.

 

Karena doa adalah hal terakhir yang bisa dilakukan karena daya kita tak punya, karena kekuatan kita tak punya; hanya DIA Sang Maha Cinta saja yang bisa, hanya DIA yang Maha Kasih saja yang mampu.

 

Dan saat kamu tersenyum setelah mendoakannya itu disebut…

 

cinta.

Malu

Sedang chatting dengan seorang sahabat, lalu kaget dengan apa yang ditulis sendiri, memang memikirkannya, tapi tidak pernah dengan ungkapan yang terasa tepat setiap kali ingin ditulis. Hanya jadi draft tulisan dan sampah di rencana-rencana tulisan blog.

“Masih ke Allah dulu… Ane malunya sama manusia terus, tapi belum malu ke Allah.”

Dan seketika langsung teringat dengan hadist ini,

“Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)

Dan untuk mendapatkan redaksional yang tepat pastinya harus browsing dulu di internet. Dan entah kenapa jadi campur aduk semuanya. Menemukan dalil-dalil lain yang terkait dengan hadist tersebut dan membuat semua hal yang sudah terjadi melintas berupa potongan-potongan cerita bergerak dengan sangat cepat, saling bertabrakan – tidak pecah namun membuat rangkaian yang membuatku jadi mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Jika melakukan kesalahan, maka ketakutan yang pertama yang dirasakan adalah tentang pandangan manusia dengan apa yang telah dilakukan. Jika melakukan suatu aib, maka tubuh gemetar menggigil karena frustasi harus menutupinya seperti apa. Tapi tidak berpikir apa yang akan dilakukan untuk membuat lupa Sang Maha Melihat dengan apa yang telah dilakukan, agar DIA tidak ingat lagi dengan kesalahan, agar DIA tidak pedulikan lagi dengan aib-aib.

Hidup sudah salah kaprah.

Yang menyedihkan adalah sudah tidak tahu lagi yang mana yang salah, yang mana yang seharusnya jadi aib… Kita hidup dimana yang salah sudah normal dilakukan orang kebanyakan, kita hidup dimana yang aib menjadi kebiasaan yang tidak apa-apa diterapkan sehari-hari.

Lebih baik sekarang melihat diri. Kita sudah mengkasihani diri atau belum? Tubuh bagian mana yang akan dibakar oleh api neraka pertama kali karena kita tidak menjaganya di sini?

“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935)

Salman al Farisi mengatakan,

“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

Lalu diam.

Hutang Hidup

Hidup itu hanya berhutang saja…

Tidak punya apa-apa lalu difasilitasi. Tidak punya segala lalu diberikan materi. Tidak bisa apa-apa lalu diberi pendamping. Hilang sesuatu lalu diberi lagi, bahkan bisa jadi diganti dengan yang lebih baik. Percayalah kita itu miskin, kita itu fakir, kita itu papa tidak punya apa-apa.

Hidup itu hanya berhutang saja. Awalnya tak mampu lalu diajari sampai bisa. Awalnya merangkak lalu ada yang pegangi sampai lancar berlari. Awalnya tak kenal kata lalu ada yang mengeja sampai mahir bercerita. Awalnya tak bisa menyusun lalu ada manual sampai cekatan menciptakan karya. Sungguh sebenarnya kita bodoh, tak mampu, kita itu tak berdaya.

Bersyukurlah karena Sang Pemberi Hutang tidak pernah menagih semua yang telah dipinjamkan. Berterimakasihlah karena Sang Pemberi Fasilitas tidak pernah mengungkit apa yang telah diberi. DIA hanya memintamu untuk shalat lima waktu saja, mewajibkanmu untuk shaum Ramadhan, menagih 2.5% harta jika sudah cukup haul dan nishabnya, dan memanggilmu saat kau mampu untuk berhaji…

Itu saja…

Mudah bukan? Membayar hutang lalu diganjar pahala, membayar hutang lalu ditambah rejeki, membayar hutang lalu masuk surga.

Jadilah hamba sejati maka hutangmu habis dibeli jadi pahala. Jadilah hamba sejati maka hutangmu lunas berubah jadi surga. Ah… Andai dunia tidak terasa terlalu nyata. Karena kehidupan akhirat itu kekal dan lebih baik untuk dipersiapkan dari pada kehidupan dunia.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُالْآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Pantaslah bilamana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengajarkan kita doa agar dunia tidak menjadi batas pengetahuan seorang mukmin dan muttaqin.

اللهملَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia menjadi perhatian utama kami serta batas pengetahuan kami.” (HR Tirmizi – Hasan)

Bayar hutangmu. Hidup hanya numpang. Jangan sombong dengan yang dimiliki. Karena mudah saja bagiNYA untuk mengambil kembali. Hidup hanya sementara. Jangan mengeluh. Karena DIA hanya memilih mereka yang mampu saja untuk mendapatkan ujian dunia.

Wallahu a’lam…

Doorprize

Lailatul Qadr itu door prize; kupon undiannya diambil di sepuluh hari terakhir, dikocok di waktu-waktu rahasia yang telah ditentukan, dan memanggil nama mereka yang memang jelas-jelas standby untuk menunggu panggilan. Lailatul Qadr hanya untuk mereka yang tenaga sisanya masih banyak, untuk mereka yang terseok tapi masih tersenyum, untuk mereka yang lelah tapi terus memaksakan, untuk mereka yang meninggalkan kehangatan untuk tetap terjaga, untuk mereka yang senang memancing; dapat atau tidak dapat ikan mereka bahagia.

Malam kemuliaan hanya untuk mereka para pengejar pahala…

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” [HR. Bukhari]

Berhenti untuk mencari-cari ciri setiap pagi datang, berhenti untuk meraba-raba apakah malam ini dia datang atau tidak, berhenti memilih-milih waktu untuk berdiam diri walau memang ada kabar dengan akurasi mendekati 100% yang dikabarkan oleh manusia yang tidak pernah bohong seumur hidupnya dan dipercaya Allah tabaraka wa ta’ala untuk membawa risalahNYA. Dengan tetap berharap bertemu dengannya, namun berhenti untuk memikirkan hal-hal hanya menambah lelah karena gagal mencari ciri, tidak berhasil meraba malam, atau kecewa karena memilih malam-malam yang tidak tepat.

Ah… Ramadhan sebentar lagi pergi. Continue reading

The Alchemist

Hanya ingin menulis bebas. Menulis itu membebaskan pikiran. Menulis adalah cara sebagian orang untuk bicara tanpa suara. Menulis untuk berpikir. Menulis itu meditasi; mencari-cari kata yang tepat, menggali-gali rasa yang pernah ada, mengingat-ingat teori-teori yang dibaca lalu terjadi nyata, lalu akhirnya menemukan sesuatu yang baru dari hal-hal lama. Seperti seorang alchemist/ahli kimia; memadukan untuk menemukan.

Hanya ingin sembarang mengarang. Tidak ada tujuan, tidak ada keinginan, tidak tahu harus melakukan apa, tidak harus menulis padahal, namun memilih menulis untuk mengekspresikan kebosanan. Menulis adalah menyajikan kata untuk disantap oleh mereka yang lapar. Menulis itu meracik gagasan sederhana dalam balutan diksi dan majas yang mudah dimengerti, walau terkadang hal-hal rahasia lebih enak dibuat rumit agar hanya penulis saja yang mengerti apa artinya dengan makna yang tetap tersampaikan. Seperti seorang chef/ahli masak; mencampur untuk membuat rasa. Continue reading

Idle

Dia menelepon lagi, seperti biasa curhat…

“Apa yang aku inginkan di dunia? Entahlah. Aku berada pada kondisi idle. Aku tidak menginginkan apapun. Aku tidak punya apa pun yang ingin aku raih. Aku tanpa passion, aku tanpa cita-cita, aku tanpa mimpi. Sepertinya butuh psikiater.”

Yeah, kamu butuh brother.

Sudah tahu arahnya kemana, tapi seperti biasa hanya ingin didengarkan saja. Dia tidak pernah meminta solusi, hanya ingin cerita. Dan mendengarkan sajalah tugas saat ini.

“Mungkin karena terlalu sering kecewa sehingga berharap saja aku malas. Mungkin karena terlalu sering gagal sehingga berjuang saja aku tidak mau. Mungkin apa yang benar-benar aku inginkan tidak mungkin tercapai sehingga aku tidak terlalu menginginkan yang lain. Hidup itu hanya sekedar rutinitas sekarang. Bukan sesuatu yang aku ingin hidupi, bukan sesuatu yang ingin aku tinggali lama-lama.”

Ya ya… Asal jangan coba-coba bunuh diri lagi ya.  Continue reading